Trump Rencanakan Serangan Besar ke Iran Buntut Demo, Libatkan Israel
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah menimbang berbagai opsi strategis untuk mendukung gelombang protes di Iran sekaligus meningkatkan tekanan terhadap kepemimpinan di Teheran. Langkah ini diperkirakan akan mencapai puncaknya dalam beberapa minggu ke depan melalui aksi militer yang lebih terarah.
Mengutip laporan Axios dan sumber yang dihimpun Iran International, Minggu (11/1/2026), Washington telah memulai mobilisasi alutsista dalam jumlah besar ke wilayah Timur Tengah selama sepekan terakhir. Pergerakan aset militer ini diprediksi akan terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang sebagai persiapan menghadapi eskalasi di Iran.
Beberapa opsi lain yang dimatangkan mencakup langkah-langkah pencegahan seperti pengumuman pengerahan gugus tempur kapal induk, serangan siber, serta operasi informasi yang secara khusus menargetkan pemerintah Iran. Strategi ini dirancang untuk melumpuhkan rezim tanpa harus memicu perang terbuka yang tidak terkendali.
"Banyak pihak dalam pemerintahan Trump percaya bahwa tindakan kinetik besar pada tahap ini justru akan melemahkan gerakan protes," ujar seorang pejabat AS dalam laporan tersebut.
Terkait keterlibatan sekutu terdekat AS, sumber internal menyebutkan bahwa Israel hanya akan terlibat aktif setelah aksi militer Amerika Serikat dimulai. Keterlibatan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pun dibatasi pada syarat tertentu.
Israel dilaporkan hanya akan melancarkan serangan jika Republik Islam Iran menyerang wilayah mereka terlebih dahulu atau menunjukkan indikasi kuat akan adanya niat serangan dalam waktu dekat.
Protes massal di Iran kali ini dipicu oleh akumulasi sanksi ekonomi "tekanan maksimum" yang melumpuhkan mata uang Rial, ditambah dengan kembalinya Trump ke kebijakan keras terhadap program nuklir Teheran.
Ketidakpuasan rakyat Iran terhadap melonjaknya harga kebutuhan pokok dan pembatasan kebebasan sipil menjadi pemantik demonstrasi besar-besaran yang kini dihadapi rezim pemimpin tertinggi. Meski begitu, Teheran menuduh pihak asing seperti Israel dan AS berada di balik kerusuhan
Di sisi lain, jumlah korban jiwa akibat tindakan represif aparat Iran dikabarkan terus meningkat. Pejabat Israel dan AS meyakini angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi daripada 116 jiwa yang dilaporkan oleh Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA).
(tps/tps)