MARKET DATA
Internasional

Breaking! AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
03 January 2026 17:28
FOTO ARSIP: Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores menghadiri acara ucapan selamat akhir tahun kepada angkatan bersenjata di La Guaira, Venezuela, 28 Desember 2025. Istana Miraflores/Handout via REUTERS
Foto: via REUTERS/Miraflores Palace

Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi politik Venezuela mendadak memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa militer AS telah melancarkan serangan besar-besaran ke negara tersebut dan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Pernyataan mengejutkan itu disampaikan Trump pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat melalui media sosial Truth Social.

"Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut," tulis Trump.

Menurut laporan Reuters, Trump menyebut Maduro telah dibawa keluar dari Venezuela. Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Venezuela terkait klaim tersebut. Namun, ledakan dilaporkan mengguncang ibu kota Caracas dan sejumlah wilayah lain di negara itu, memperkuat spekulasi adanya operasi militer skala besar.

Jika klaim Trump terbukti benar, langkah ini akan menjadi intervensi langsung Amerika Serikat yang paling signifikan di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989 untuk menggulingkan Manuel Noriega. Reuters melaporkan, helikopter terlihat melintas di atas kepulan asap akibat ledakan di Caracas pada Sabtu pagi waktu setempat.

Ketegangan antara Washington dan Caracas memang meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintahan Trump menuding Maduro menjalankan "negara narkoba" dan memanipulasi pemilu. Di sisi lain, Maduro secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menuding AS berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela, yang terbesar di dunia.

Ironisnya, hanya sehari sebelum klaim penangkapan itu muncul, Maduro menyatakan terbuka untuk berdialog dengan Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Venezuela yang dikutip BBC News, Maduro mengatakan siap melakukan pembicaraan dengan AS terkait isu perdagangan narkoba dan minyak. Ia bahkan menyebut dialog bisa dilakukan "di mana pun mereka mau dan kapan pun mereka mau".

Dalam wawancara tersebut, Maduro juga menghindari pertanyaan mengenai pernyataan Trump sebelumnya yang mengklaim AS telah menyerang fasilitas dermaga di Venezuela. Menanggapi isu tersebut, Maduro hanya mengatakan hal itu "bisa dibicarakan dalam beberapa hari ke depan".

BBC News melaporkan, selama tiga bulan terakhir AS telah meningkatkan operasi militernya di kawasan Karibia dan Pasifik timur dengan dalih "perang melawan narkoba". Lebih dari 30 serangan terhadap kapal yang diduga membawa narkotika telah dilakukan, dengan korban tewas dilaporkan mencapai lebih dari 110 orang. Serangan terbaru terjadi pada Rabu lalu, ketika dua kapal dihantam dan menewaskan lima orang di dalamnya, menurut militer AS.

Trump juga diketahui telah menggandakan hadiah bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro serta berencana menetapkan pemerintah Venezuela sebagai Foreign Terrorist Organisation (FTO). Tuduhan tersebut kembali dibantah keras oleh Maduro, yang menilai perang melawan narkoba dijadikan alasan untuk menjatuhkannya dari kekuasaan.

Sejumlah pakar kontra-narkotika menyebut peran Venezuela dalam perdagangan narkoba global relatif kecil dan lebih berfungsi sebagai negara transit. Namun, kebijakan agresif AS terus berlanjut, termasuk penyitaan kapal tanker minyak Venezuela yang dituding melanggar sanksi internasional. Pemerintah Venezuela menyebut langkah tersebut sebagai "pembajakan internasional".

(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Presiden Rp 815 M Berani Lawan Trump, Kerahkan Drone & Kapal Perang


Most Popular
Features