Raja Salman Eksekusi Mati 356 Orang, Ini Dia Sebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi mencatatkan rekor tertinggi eksekusi mati dalam satu tahun kalender. Berdasarkan tabulasi AFP, Kamis (1/2/2025) otoritas kerajaan telah mengeksekusi 356 orang sepanjang tahun 2025, melampaui rekor tahun sebelumnya sebanyak 338 orang.
Lonjakan angka eksekusi ini utamanya didorong oleh kebijakan "perang melawan narkoba" yang digalakkan Riyadh. Data resmi pemerintah mengungkapkan bahwa 243 orang dieksekusi khusus untuk kasus terkait narkotika.
Sebagaimana diketahui, Arab Saudi kembali memberlakukan hukuman mati untuk pelanggaran narkoba pada akhir 2022 setelah sempat ditangguhkan selama tiga tahun.
Sejak melancarkan perang terhadap narkoba, negara ini telah meningkatkan pos pemeriksaan polisi di jalan raya dan di persimpangan perbatasan, di mana jutaan pil telah disita dan puluhan penyelundup ditangkap.
"Perekonomian terbesar di dunia Arab juga merupakan salah satu pasar terbesar bagi captagon, sebuah stimulan terlarang yang merupakan ekspor terbesar Suriah di bawah pemimpin terguling Bashar al-Assad," kata data PBB.
Para aktivis HAM menilai tren ini kontradiktif dengan agenda "Visi 2030" milik Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) yang ingin mencitrakan Arab Saudi sebagai negara yang lebih terbuka dan modern.
Saat ini, Arab Saudi tengah gencar berinvestasi besar-besaran di sektor pariwisata dan olahraga, termasuk persiapan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, guna mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungan minyak. Namun, pemerintah menegaskan bahwa hukuman mati diperlukan demi menjaga ketertiban umum.
[Gambas:Video CNBC]