Aceh Diserang Tentara AS Menyamar Jadi Pedagang, 500 Tewas Seketika
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan pasukan Amerika Serikat terhadap terhadap Kuala Batu, Aceh pada tahun 1831-1832 menjadi catatan penting dalam sejarah kolonial Asia Tenggara. Peristiwa ini tidak hanya menewaskan 500 warga Aceh, tapi juga menandai masuknya AS dalam kompetisi kekuasaan di kawasan yang saat itu sudah diperebutkan Belanda dan Inggris.
Ceritanya, Sebelum melancarkan serangan besar yang menewaskan ratusan warga Aceh, tentara Amerika Serikat diam-diam menyusun strategi penyamaran sebagai pedagang. Fregat USS Potomac yang dipimpin Kapten John Downes menerima pesan langsung dari Presiden Andrew Jackson (1767-1845) agar bersiaga tempur dan siap mengambil tindakan tegas di wilayah Hindia Timur.
Instruksi itu muncul setelah kapal dagang Amerika, Friendship, diserang warga Kuala Batu, Aceh, pada Februari 1831, sehingga membuat Presiden Jackson murka. Sebagai panglima tertinggi militer, ia memerintahkan Downes untuk menilai situasi dan, bila perlu, melakukan operasi balasan demi menjamin keamanan kapal-kapal dagang AS.
Sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata, dia memerintahkan Downes untuk segera bertindak. Tugasnya adalah menilai situasi hingga diperbolehkan mengambil langkah apa pun demi memberi pelajaran agar kapal-kapal dagang AS di perairan Hindia Timur terjamin keselamatannya.
John Downes sendiri bukan perwira sembarangan. Dalam buku America's Forgotten Wars (2021) diketahui, dia dikenal sebagai komandan tempur tangguh yang telah berkali-kali memimpin dan memenangi operasi militer di kawasan Pasifik.
Maka, begitu perintah diterima, Downes langsung bergerak. Dia memuat 300 tentara dan meriam ke dalam kapal. Dari Brasil, kapal Potomac melanjutkan pelayaran ribuan kilometer menuju Afrika Selatan, lalu menyeberangi Samudra Hindia demi mencapai Aceh.
Sebagai gantinya, USS Potomac akan menyamar sebagai kapal dagang milik Belanda. Ini merupakan pilihan cerdik sebab Belanda memang sudah terbiasa berdagang dengan Aceh. Hubungan dagang itu membuat kehadiran kapal asing berbendera Belanda tak akan menimbulkan kecurigaan.
Perlu dicatat, meskipun Belanda punya koloni besar di Nusantara, Aceh bukan bagian dari jajahan mereka. Aceh saat itu adalah kerajaan independen yang tangguh dan berdaulat.
Bahkan, seperti dijelaskan Lee Kam Hing dalam The Sultanate of Aceh (1995), Kesultanan Aceh memiliki hubungan resmi dengan Kesultanan Ottoman di Turki dan Kerajaan Inggris pada abad ke-19.
Saat USS Potomac tiba di Aceh, Kapten Downes menjalankan siasatnya. Kapal perang itu disamarkan sebagai kapal dagang Belanda. Tak ada yang curiga.
Setelah merapat, tentara disuruh turun dengan dalih berdagang. Padahal, mereka sedang memetakan wilayah dan menculik pedagang lokal untuk mengukur kekuatan pertahanan Kuala Batu.
Dari sini, Downes menyusun serangan. Tepat pada fajar, 6 Februari 1832, 300 tentara Amerika Serikat melancarkan serbuan mendadak ke pemukiman warga Kuala Batu.
Warga jelas tak siap perang. Mereka mengira tamu asing itu datang untuk berdagang. Meski akhirnya sempat melawan, mereka tetap kalah total.
"Kapten Downes mendaratkan 300 orang ke kota, dan dalam waktu kurang dari tiga jam berhasil merebut tiga benteng serta menewaskan antara 80 hingga 100 warga lokal," tulis New York Observer (7 Juli 1832).
Dalam laporan itu disebutkan, korban di pihak AS hanya dua orang tewas dan 80-100 warga lokal. Meski begitu, laporan lain menyebut jumlah korban jauh lebih besar, yakni 500 warga sipil.
Disebut Biadab
Menurut Farish A. Noor, serangan USS Potomac ke permukiman di Sumatera memicu perubahan mengejutkan dalam opini publik Amerika Serikat. Awalnya, tentara AS dipuji sebagai pahlawan, tapi kemudian dikecam sebagai pembunuh biadab.
Ini disebabkan tentara AS melakukan strategi penyamaran sebagai pedagang, melakukan serangan saat penduduk tertidur, tidak melakukan negosiasi, serta membunuh perempuan dan anak-anak.
Meski gelombang kritik sempat membesar, Presiden Andrew Jackson berhasil meredamnya. Namun, sejarah tetap mencatat luka itu. Baru ratusan tahun kemudian diketahui, warga Aceh tidak sepenuhnya bersalah.
Dalam Death on an Empire (2011), sejarawan Robert Booth menjelaskan bahwa serangan terhadap kapal Friendship dipicu sikap frustasi warga atas praktik dagang yang curang. Pedagang AS kerap mengurangi takaran dan merugikan warga Aceh. Ketika Friendship datang, kemarahan yang lama terpendam akhirnya meledak.
Ironisnya, serangan balasan dari USS Potomac justru membuka jalan bagi invasi Belanda ke Aceh beberapa tahun kemudian. Serangan itu menjadi awal dari perang panjang dan berdarah yang mengubah lantas mengubah sejarah Aceh.
(fab/fab)