
Potret Presiden Turun Gunung Lawan "Invasi" Amerika Serikat
Ketegangan Venezuela-AS meningkat. Maduro tolak pasukan AS masuk, sementara AS kerahkan armada nuklir & 4.500 personel, Caracas tingkatkan patroli & milisi.

Ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Presiden Nicolas Maduro menegaskan bahwa pasukan AS tidak akan diizinkan memasuki wilayah negaranya, meski kehadiran militer AS di kawasan Karibia terus bertambah. Pernyataan ini disampaikan Maduro pada Kamis (28/8/2025) saat pidato di hadapan pasukannya. (Miraflores Palace/Handout via REUTERS)

Pengerahan armada militer AS, termasuk kapal perang dan kapal selam bertenaga nuklir, dilakukan di perairan dekat Venezuela. Washington mengklaim operasi tersebut sebagai upaya melawan kartel narkoba di Amerika Latin, meski Caracas menolak klaim ini sebagai dalih intervensi militer. (Miraflores Palace/Handout via REUTERS)

Venezuela juga menempuh jalur diplomatik. Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, menemui Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk menyampaikan keberatan negaranya. Moncada menuding AS menggunakan kampanye propaganda untuk membenarkan aksi militer, sekaligus menyindir klaim AS soal kapal selam nuklir untuk memberantas narkoba. (Miraflores Palace/Handout via REUTERS)

Sementara itu, pihak militer AS membenarkan pengerahan armadanya. Laksamana Daryl Claude menyebut kapal perang dikerahkan karena keterlibatan sejumlah warga Venezuela dalam operasi narkoba besar. Armada ini terdiri atas tujuh kapal perang, satu kapal selam nuklir, dan membawa lebih dari 4.500 personel, termasuk 2.200 marinir. (Miraflores Palace/Handout via REUTERS)

Merespons langkah AS, Caracas meningkatkan kesiagaan militer. Pemerintah Venezuela menambah patroli kapal perang dan drone, merekrut ribuan anggota milisi baru, serta menempatkan 15.000 tentara di perbatasan Kolombia. Maduro menyebut dukungan militer Kolombia yang menambah 25.000 personel menjadi bagian upaya bersama menumpas "geng narco-teroris". (Miraflores Palace/Handout via REUTERS)