Proyek Gas Jumbo Rp342 Triliun RI Akhirnya Ada Progres, Ini Pemiliknya

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
29 August 2025 14:45
Inpex mulai melakukan pengerjaan Front-End Engineering Design (FEED) Lapangan Gas Abadi, Blok Masela. Seremoni pengerjaan FEED dilakukan di Jakarta, Kamis (28/08/2025). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)
Foto: Inpex mulai melakukan pengerjaan Front-End Engineering Design (FEED) Lapangan Gas Abadi, Blok Masela. Seremoni pengerjaan FEED dilakukan di Jakarta, Kamis (28/08/2025). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek gas "raksasa" Lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku resmi memasuki tahap Front-End Engineering Design (FEED) atau desain rekayasa teknis untuk fasilitas kilang darat gas alam cair atau Onshore LNG (OLNG).

Proyek lapangan gas ini diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$ 20,94 miliar atau sekitar Rp 342,56 triliun (asumsi kurs Rp 16.359 per US$). Pemerintah pun menargetkan proyek gas "jumbo" ini bisa beroperasi pada 2029 mendatang.

Kilang LNG ini ditargetkan akan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), dan memproduksi 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel per hari (bph) kondensat.

Lantas, siapakah pengelola proyek Lapangan Gas Abadi ini?

Proyek gas "raksasa" ini dioperasikan oleh Inpex Masela Ltd, unit usaha Inpex Corporation, perusahaan minyak dan gas bumi asal Jepang. Inpex menguasai 65% hak partisipasi (Participating Interest/ PI) di Blok Masela ini.

Sebelumnya, Inpex ditemani oleh Shell Upstream Overseas Services dengan kepemilikan saham 35%. Namun sayangnya, Shell memutuskan hengkang dari proyek gas abadi yang berlokasi di Maluku itu.

Adapun 35% saham Shell tersebut sejak Juli 2023 lalu telah diambil oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20% dan Petronas 15%.

Perjanjian jual beli hak partisipasi dari Shell ke Pertamina dan Petronas ini ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan PI diperoleh pada 4 Oktober 2023.

Komitmen Inpex

President and CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menjelaskan proyek Blok Masela tersebut mampu menyumbang sekitar US$ 150 miliar atau Rp 2.543 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) RI dan menciptakan 70 ribu lapangan kerja dalam waktu 30 tahun ke depan.

"Secara perkiraan, proyek ini akan menambah sekitar US$150 miliar terhadap PDB Indonesia dan menciptakan 70.000 lapangan kerja selama 30 tahun," kata Ueda dalam acara peresmian FEED di Jakarta, dikutip Jumat (29/8/2025).

Ia menilai, dimulainya tahap FEED merupakan langkah penting bagi perusahaan dalam perjalanan menuju peningkatan ketahanan dan keberlanjutan energi di Indonesia.

Selain itu, proyek ini juga akan menjadi proyek energi pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) sejak awal produksi.

"CCS akan membantu mendorong dekarbonisasi Indonesia sekaligus memasok energi untuk negeri ini," ujarnya.

Perlu diketahui, Lapangan Gas Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilo meter (km) lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.

Setelah kontrak bagi hasil ditandatangani pada 1998, akhirnya Inpex menemukan cadangan gas jumbo di Blok Masela ini pada tahun 2000.

Lalu, 19 tahun kemudian, baru lah Pemerintah Indonesia memberikan persetujuan atas Rencana Pengembangan atau Plan of Development (PoD) pertama (PoD-I) kepada Inpex untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA) dari Kilang LNG Masela, dan memproduksi 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel per hari (bph) kondensat.

Konsep pengembangan lapangan green field (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deep water, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya.

Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan energi bersih melalui penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.

Penerapan CCS ini pun disetujui Pemerintah Indonesia pada 28 November 2023, melalui Revisi 2 PoD-I. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan tender FEED. Hingga akhirnya, Rabu, 9 April 2025, Inpex meluncurkan FEED OLNG dan pada 28 Agustus 2025 meresmikan dimulainya pengerjaan FEED.


(wia)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Inpex Akhirnya Luncurkan Desain Teknis Proyek Gas Raksasa di Maluku

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular