
Update Penembakan Gereja Katolik, Pelaku Terobsesi Membunuh Anak

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi penembakan brutal sempat mengguncang sebuah gereja di Minneapolis, Amerika Serikat (AS) pada Rabu waktu setempat. Akibatnya, dua anak tewas dan sedikitnya 15 lainnya luka-luka akibat serangan ini, yang oleh FBI dikategorikan sebagai aksi terorisme domestik bermotif kebencian.
Pelaku, yang diidentifikasi sebagai Robin Westman (23), melepaskan tembakan dari luar jendela kaca patri gereja sebelum bunuh diri di area parkir. Polisi menemukan 116 butir peluru senapan, tiga selongsong peluru, serta satu peluru yang tersangkut di bilik pistol.
"Pelaku meninggalkan manifesto, video, dan ratusan halaman tulisan yang dipenuhi kebencian terhadap berbagai kelompok. Satu-satunya yang ia idolakan hanyalah para penembak sekolah dan pembunuh massal terkenal di AS. Hati si penembak dipenuhi kebencian," kata Penjabat Jaksa Agung Minnesota, Joseph Thompson, dalam konferensi pers Kamis (28/8/2025).
Thompson menambahkan, pelaku "secara khusus terobsesi dengan ide membunuh anak-anak". Aparat meyakini itu menjadi motif utama penyerangan.
![]() Robin Westman, yang diidentifikasi oleh sumber penegak hukum sebagai tersangka penembakan di Gereja Annunciation di Minneapolis, berbicara dalam gambar diam dari video tanpa tanggal yang sebelumnya diunggah ke media sosial dan direkam oleh Robin Westman. Video tersebut kini telah dihapus. Robin Westman via YouTube/via REUTERS |
Sementara itu, Direktur FBI Minnesota, Kash Patel, menyebut temuan awal menunjukkan serangan ini "tindakan terorisme domestik". Menurutnya hal ini dimotivasi oleh ideologi kebencian.
Di sisi lain, Kepala Kepolisian Minneapolis Brian O'Hara melaporkan jumlah korban luka terus bertambah. "Total korban anak yang terluka kini 15 orang, setelah ada tambahan laporan baru. Tiga korban lansia juga mengalami luka, dengan kondisi satu anak masih kritis dan seorang pensiunan dalam kondisi serius," ujarnya.
Otoritas menegaskan, pelaku membeli senjata secara legal meski tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. O'Hara meminta media berhenti menyebut nama pelaku karena diduga motif lain serangan ini adalah mencari ketenaran.
"Ini adalah serangan keji terhadap anak-anak dan komunitas. Kita tidak boleh memberi panggung pada pelaku," kata O'Hara.
Pelaku diketahui pernah bersekolah di sekolah Katolik yang terhubung dengan gereja tersebut, sementara ibunya juga pernah bekerja di institusi yang sama.
(tfa/șef)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Didemo Warganya Sendiri: Dia Bukan Presiden Kami
