Pengusaha Pede Investasi Jalan Meski Resesi & Tahun Politik

News - Arrijal Rachman, CNBC Indonesia
25 January 2023 16:20
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas di hari kedua acara Orasi Ilmiah Transformasi Ekonomi Melalui Hilirisasi dengan Kearifan Lokal yang di selenggarakan oleh Kementerian Investasi/BKPM dan PT Freeport Indonesia di Universitas UI Depok dan ITB Bandung, Jawa Barat. (CNBC Indonesia) Foto: Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas di hari kedua acara Orasi Ilmiah Transformasi Ekonomi Melalui Hilirisasi dengan Kearifan Lokal yang di selenggarakan oleh Kementerian Investasi/BKPM dan PT Freeport Indonesia di Universitas UI Depok dan ITB Bandung, Jawa Barat. (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - , meskipun tahun ini sudah mulai memasuki tahun politik di dalam negeri dan ancaman resesi global semakin menguat di luar negeri.

Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Kadin Indonesia Tony Wenas menjelaskan, terdapat banyak faktor yang membuat para pengusaha akan terus menggelontorkan investasinya di Tanah Air pada 2023. Diantaranya, uang yang beredar di tingkat global sebetulnya masih sangat banyak meski ketidakpastian berusaha masih tinggi.

"Kalau saya melihatnya uang yang beredar di dunia ini bahkan lebih banyak barang kali, tapi situasi gelap yang terjadi mereka hati-hati melakukan investasinya, bukan berarti uangnya enggak ada, uangnya ada," kata Tony saat ditemui di Kementerian Investasi, Jakarta, dikutip Rabu (25/1/2023).

Di tengah ketidakpastian pergerakan ekonomi global, Tony menilai, Indonesia justru diperkirakan banyak lembaga internasional perekonomiannya masih akan tumbuh di kisaran 5% tahun ini dengan tingkat inflasi yang terjaga.

Karena itu, Indonesia kata dia akan menjadi tujuan investasi para pemilik dana dari berbagai negara.

"Dan dengan middle class yang besar di Indonesia, dengan usia produktif dari sebagian besar penduduk Indonesia, ini membuat Indonesia menjadi daerah yang ibaratnya investor akan ngiler melihat Indonesia," tuturnya.

Kendati begitu, Tony mengingatkan, supaya aliran investasi itu betul-betul terealisasi di Indonesia, pemerintah harus terus menjaga kondusifitas iklim investasi, sebab negara-negara lain yang bersaing menjadi tujuan investasi juga terus memberikan banyak kemudahan dalam mengurus perizinan.

"Dan saya yakin OSS yang terus diupgrade, diperbaiki, dan akan bisa mencapai satu sistem yang ideal bagi investor untuk masuk ke Indonesia dan Kadin berperan juga memfasilitasi investor-investor asing dalam negeri yang mau investasi," ucap Tony.

Dengan terjaganya iklim investasi ini, ia mengaku optimistis, target investasi yang telah ditetapkan pemerintah pada 2023 sebesar Rp 1.400 triliun akan bisa betul-betul terealisasi. Sebagaimana terealisasinya target investasi pada 2022 yang sudah mencapai Rp 1.207,2 triliun atau terbesar sepanjang sejarah.

"Jadi saya tetap optimistis, sebagaimana juga pemerintah optimistis bahwa target di 2023 ini bisa tercapai. Tentu dengan kolaborasi yang erat antara swasta dan stakeholder lainnya," ujar dia.

Sementara itu, Menteri Investasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengaku 2023 menjadi tahun yang berat bagi perekonomian Indonesia. Target investasi yang diberikan Presiden Joko Widodo sebesar Rp 1.400 tahun ini pun dinilainya menghadapi banyak tantangan untuk bisa dicapai.

"Yes, jujur saja. Tahun 2023 adalah tahun berat bagi Republik Indonesia," kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (24/1/2023).

Ia mengingatkan, tahun ini ada dua tantangan besar yang dihadapi Indonesia baik dari sisi global maupun dalam negeri. Dari sisi global adalah peluang masuknya negara-negara lain ke jurang resesi semakin besar sebagaimana yang diperkirakan banyak lembaga internasional.

"Bahkan lembaga dunia mengatakan bahwa potensi resesi itu sangat besar tinggal hari ini yang menjadi diskusi kita adalah berapa dalam resesi itu, dalamnya apakah dalam sekali atau tidak terlalu dalam. Tapi itu global," tutur Bahlil.

Kinerja investasi Indonesia menurutnya mau tidak mau akan terdampak permasalahan global itu, sebab 53% investasi yang masuk ke Indonesia pada 2022 berasal dari penanaman modal asing atau foreign direct investment. Dengan demikian, negara-negara lain pasti akan berebut uang investor supaya masuk ke dalam negerinya.

"Di tengah ketidakpastian, di samping FDI itu penting, uang yang beredar di dunia ini kan enggak banyak, tapi hampir semua negara berusaha dengan masing-masing strategi agar uang global itu bisa masuk ke negara kita," ujar dia.

"Jadi di satu sisi adalah kondisi global yang enggak bagus, di sisi lain adalah terjadi kompetisi yang maksimal antar sesama negara untuk menarik FDI, terutama bagi negara-negara berkembang," tutur Bahlil.

Adapun faktor domestik yang menjadi faktor kedua memperberat pencapaian target investasi tahun ini, kata Bahlil, adalah masuknya tahun politik. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan banyak lembaga internasional pada 2023 masih bisa tumbuh di kisaran 4,8-5% investor menurutnya cenderung wait and see untuk menggelontorkan investasinya pada tahun politik.

"Namun satu hal kita punya persoalan. Tahun 2023 itu tahun politik. Namanya tahun politik biar sumpah potong kucing itu pasti ada perasaan wait and see, ini outlook 2023" tutur dia.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Top! Tahun Ini RI Ketiban 'Durian Runtuh' Rp450-an Triliun


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading