4 Negara Berkembang Ini Aman dari Resesi 2023, Ada Indonesia?

News - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
05 December 2022 08:35
India's Prime Minister Narendra Modi greets Indonesia's President Joko Widodo as he arrives for the G20 leaders' summit in Nusa Dua, Bali, Indonesia, November 15, 2022. REUTERS/Kevin Lamarque/Pool Foto: REUTERS/KEVIN LAMARQUE

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Dunia meramal perekonomian global akan menyusut hingga 1,9% poin menjadi 0,5% pada 2023. Ini adalah proyeksi dalam skenario terburuk.

Namun, pemburukan ini tidak berhenti sampai di situ. Pasalnya, pada 2024, lembaga internasional ini melihat ekonomi dunia akan kembali menurun 1% menjadi 2,0%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan hal ini dipicu oleh hampir semua negara di dunia yang mengalami risiko kemunduran ekonomi. Beberapa negara, dipastikan mengalami resesi ekonomi, di antaranya Amerika Serikat, Eropa, Inggris, dan China.

"Resesi bukannya tidak mungkin terjadi di Amerika Serikat. Pada 2022 dan 2023, Eropa juga kemungkinan terjadi resesi," kata Sri Mulyani, dikutip Senin(4/12/2022).

Sri Mulyani juga mengungkapkan ada negara-negara yang terbilang cukup baik ekonominya dan kuat dari guncangan resesi. Indonesia, katanya, termasuk salah satunya.

"Emerging countries, seperti India, Indonesia dan Brazil, Meksiko relatif dalam situasi cukup baik," paparnya.

Mengutip IMF, India diperkirakan akan tumbuh 6,8% tahun ini dan 6,1% tahun depan. Sementara itu, IMF memperkirakan Indonesia tumbuh 5,3% tahun ini dan 5% pada 2023. Sementara itu, menurut Bank of Mexico, Meksiko diperkiraan akan tumbuh 1,8% pada 2023.

Kementerian Ekonomi Brazil memprediksi ekonominya akan tumbuh 2,1% tahun depan. Angka ini direvisi dari sebelumnya 2,5%. Kendati tumbuh positif, negara-negara itu tetap berisiko terkena efek samping resesi dari negara-negara maju.

Sri Mulyani juga mengungkapkan bahwa pihaknya turut mewaspadai kondisi eksternal meski Indonesia diprediksi masih tumbuh kisaran 5% pada 2022 dan 2023.

Risiko resesi disebabkan oleh kenaikan cost of fund dan potensi default di banyak negara yang sudah memiliki rasio utang sangat tinggi. Harga komoditas yang tinggi kemudian menyebabkan inflasi melonjak.

"Seberapa banyak negara masuk krisis default yang kemudian muncul juga dalam kondisi ekonomi? Ini kondisi makin rumit. Jadi global economy semakin kompleks," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Apakah Dunia Bakalan Resesi di 2023? Ini Jawaban Sri Mulyani


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading