Internasional

Bukan AS! Korsel Minta Bantuan Rusia & China, Ada Apa?

News - luc, CNBC Indonesia
22 November 2022 06:40
Flags of China and Russia displayed on phone screens are seen in this multiple exposure illustration photo taken in Krakow, Poland on May 15, 2022. (Photo illustration by Jakub Porzycki/NurPhoto via Getty Images) Foto: Ilustrasi Bendera China dan Rusia (Photo illustration by Jakub Porzycki/NurPhoto via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan (Korsel) telah meminta bantuan Rusia dan China untuk menghentikan program pengujian rudal Korea Utara (Korut) dengan alasan bahwa Pyongyang mengancam perdamaian dan stabilitas di seluruh Asia Timur Laut dan sekitarnya.

Utusan nuklir Kim Gunn melakukan panggilan telepon dengan duta besar Rusia dan China untuk Seoul, Andrey Kulik dan Xing Haiming, meminta kerja sama aktif dalam membujuk Pyongyang untuk menahan diri dari provokasi lebih lanjut dan kembali ke dialog.

Kim berargumen bahwa peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Korea Utara pada Jumat lalu telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan menandai insiden berbahaya lainnya dari rezim Presiden Kim Jong Un.

Seoul mengajukan permohonan bantuan saat utusannya bersiap untuk melobi Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan dalam pertemuan darurat pada Senin sebagai tanggapan atas uji ICBM terbaru Korea Utara. Diplomat Korea Selatan "menekankan perlunya komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, untuk bersatu, dan segera mengambil tindakan pencegahan yang menentukan," kata Kementerian Luar Negeri Korsel, dikutip Russia Today, Selasa (22/11/2022.

Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan, Rusia dan China memiliki kekuatan untuk memveto setiap resolusi yang akan menghukum Korea Utara atas uji coba senjata strategisnya. Rusia di masa lalu telah menyerukan deeskalasi di Semenanjung Korea oleh kedua belah pihak, yang berarti Pyongyang akan menghentikan uji coba terkait nuklir dan AS dan Korea Selatan akan menangguhkan latihan militer bersama mereka di wilayah tersebut.

Kulik memperingatkan tahun lalu bahwa hanya diplomasi yang akan membawa perdamaian ke semenanjung Korea.

"Kami yakin bahwa kegiatan langkah demi langkah berdasarkan prinsip kesetaraan dan pendekatan bertahap dan tersinkronisasi akan memungkinkan untuk memastikan denuklirisasi Semenanjung Korea dan meletakkan dasar bagi sistem perdamaian dan keamanan yang solid di sini," katanya kepada TASS.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk Korea Utara atas peluncuran ICBM terbarunya.

Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son-hui menanggapi kemudian dengan menyebut Guterres sebagai "boneka AS". Dia membela uji coba senjata Korea Utara sebagai "pelaksanaan hak untuk membela diri yang sah dan adil", dengan mengatakan bahwa uji coba itu dilakukan sebagai tanggapan atas "latihan perang nuklir yang provokatif" oleh AS dan sekutunya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kim Jong Un Ngamuk! Tembak 10 Rudal, Jatuh di Gerbang Korsel


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading