Internasional

Awas Perang Asia! Korut Simulasi Serang Kota Besar Korsel

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
07 November 2022 16:30
Uji tembak rudal hipersonik di lokasi Korea Utara. (via REUTERS/KCNA) Foto: Uji tembak rudal hipersonik di lokasi Korea Utara. (via REUTERS/KCNA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Korea Utara (Korut) menyatakan bahwa peluncuran rudalnya baru-baru ini merupakan simulasi serangan terhadap Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS). Hal ini terjadi tatkala hubungan politik Semenanjung Korea memanas akibat Pyongyang yang tak senang dengan latihan bersama Washington dan Seoul.

Korut sendiri menguji coba 25 rudal, termasuk rudal balistik antarbenua yang gagal, dan ratusan peluru artileri ke laut pekan lalu. Negara pimpinan Kim Jong Un itu mengatakan latihan bersama AS-Korsel yang bernama Vigilant Storm itu telah menjadi provokasi dan ancaman bagi pihaknya.

"Latihan Vigilant Storm adalah provokasi terbuka yang bertujuan meningkatkan ketegangan dengan sengaja dan latihan perang berbahaya dengan sifat agresif yang sangat tinggi," terang Pyonyang Senin (7/11/2022).

"Tentara Korut mengatakan telah melakukan kegiatan simulasi serangan terhadap pangkalan udara dan pesawat, serta kota besar Korsel, untuk menghancurkan histeria perang musuh yang gigih," tambahnya.

Mengutip AFP, analis mengatakan latihan militer AS-Korsel yang berlangsung sejak minggu lalu adalah faktor kunci. Ini melibatkan ratusan pesawat tempur dari kedua belah pihak yang melakukan serangan tiruan 24 jam sehari.

Setidaknya ada 240 jet tempur dari kedua negara. Lalu 1600 serangan mendadak, yang merupakan terbesar dalam latihan itu.

Latihan semula dijadwalkan berakhir Jumat lalu. Namun ternyata ini diperpanjang dengan alasan 'mempertahankan postur keamanan bersama yang ketat dalam menghadapi agresi Korut'.

Latihan tersebut juga melibatkan beberapa jet tempur canggih seperti F-35A dan F-35B. Keduanya merupakan pesawat siluman yang dirancang untuk menghasilkan tanda radar sekecil mungkin.

Menurut analis, Korut mungkin memiliki senjata nuklir yang tidak dimiliki Korsel, tetapi angkatan udaranya adalah mata rantai terlemah dalam militernya. Ini kemungkinan tidak dapat melawan teknologi pesawat siluman.

"Sebagian besar pesawat Korut sudah ketinggalan zaman... mereka hanya memiliki sedikit jet tempur canggih," kata peneliti di Institut Sejong, Cheong Seong-chang.

"Korut tidak memiliki banyak minyak yang dibutuhkan untuk pesawat, sehingga pelatihan juga tidak dilakukan dengan baik," tambahnya.

"Hal inilah yang membuat Kim Jong Un takut," tegasnya.

Hal lain yang mendasari langkah Korut ini, diyakini juga terkait dengan laporan bahwa pasukan komando AS dan Korsel mempraktikkan apa yang disebut "serangan pemenggalan kepala". Ini merujuk pada upaya pelengseran pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong Un, dalam operasi militer secepat kilat.

"Peluncuran (rudal-rudal) cepat Pyongyang minggu ini adalah karena "Badai Waspada" Korut," kata seorang peneliti di Institut Studi Kebijakan Asan, Go Myong-hyun.

"Pyongyang yakin jet siluman akan digunakan dalam operasi pemenggalan kepala," tambah Go.

Sementara itu, Korsel, AS bersama Jepang mengutuk tindakan Korut. Tes rudal secara membabi-buta itu dianggap sangat sembrono.

"Diplomat senior Washington, Seoul, bersama dengan Jepang berbicara melalui telepon pada hari Minggu dan mengutuk tes baru-baru ini, termasuk peluncuran rudal sembrono yang mendarat di lepas pantai Korsel pekan lalu," kata pernyataan Departemen Luar Negeri AS.

Seorang pejabat di Kepala Staf Gabungan Korsel mengatakan bahwa sebuah kapalnya telah menemukan puing-puing yang diyakini sebagai bagian dari rudal balistik jarak pendek Pyongyang. Ini adalah pertama kalinya rudal balistik Korut mendarat di dekat perairan Korsel.

"Kapal penyelamat Angkatan Laut Korsel menggunakan penyelidikan bawah air untuk memulihkan bagian-bagian, yang sedang dianalisis," kata pejabat itu.

Perlu diketahui, kedua Korea secara teknis masih berperang setelah konflik 1950-53 mereka berakhir dengan gencatan senjata daripada perjanjian damai. Korut dan Korsel secara teknis tetap berperang sejak perjanjian gencatan senjata mengakhiri pertempuran dalam Perang Korea 1950-1953.

Korut diyakini Barat terus melanjutkan pengujian bom nuklir untuk pertama kalinya sejak 2017. Hingga kini rencana pembicaraan denuklirisasi Korut tak digubris Kim Jong Un.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Adik Kim Jong Un Ancam Balas Dendam ke Korsel, Kenapa Lagi?


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading