Saat Sri Mulyani Tiba-tiba Optimistis Soal Nasib RI, Ada Apa?

News - Anisa Sopiah, CNBC Indonesia
05 November 2022 16:30
Konferensi pers hasil rapat berkala KSSK IV tahun 2022. (Tangkapan layar Youtube Kemenkeu RI) Foto: Konferensi pers hasil rapat berkala KSSK IV tahun 2022. (Tangkapan layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah peringatan badai gelap yang bisa mengancam Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani 'melunak' dengan mengajak tetap optimistis meski harus tetap waspada. Hal itu untuk mengantisipasi risiko eskalasi ketidakpastian global saat ini.

"Stabilitas sistem keuangan pada Q3 2022 tetap berada dalam kondisi yang resilien. Kita tetap optimis namun juga waspada di tengah ketidakpastian saat ini. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berkomitmen terus memperkuat koordinasi dalam mewaspadai perkembangan risiko global, termasuk dalam menyiapkan respons kebijakan," kata Sri Mulyani dalam unggahan akun Instagramnya dikutip Sabtu (5/11/2022).

Sri Mulyani mengatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi memang terjadi di sejumlah negara maju terutama Amerika Serikat  (AS), Eropa, dan China.

"Namun, perbaikan ekonomi domestik terus berlanjut ditopang oleh konsumsi swasta yang masih tetap kuat di tengah kenaikan inflasi, investasi nonbangunan yang meningkat, serta kinerja ekspor yang masih terjaga," kata dia.

Dia pun memaparkan sejumlah capaian perekonomian Indonesia hingga saat ini yang dinilai masih positif.

Berikut perkembangan perekonomian Indonesia mengutip catatan Kementerian Keuangan (Kemenkeu):

1. Menguatnya pemulihan ekonomi Indonesia dengan mengacu pada persentase pertumbuhan ekonomi Triwulan I senilai 5,01% kemudian naik di Triwulan Il senilai 5,44%.

2. Sektor strategis seperti manufaktur dan perdagangan tumbuh secara ekspansif. Cirinya indeks angkanya di angka 50. PMI Manufacturing Indonesia berada di level 51,8. Sementara itu, data Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 5,5% (yoy) pada September 2022. Di sisi lain, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan persepsi konsumen yang ekspansif di level 117,2.

3. Terjadi penguatan konsumsi, peningkatan ekspor, surplusnya neraca perdagangan, dan tumbuhnya investasi walaupun belum optimal. Neraca perdagangan September 2022 surplus sebesar US$ 4,99 bio (akumulasi 2022: $39,9 bio). Surplus ini berasal dari tingginya surplus non-migas, peningkatan ekspor non-migas, serta pengaruh dari meningkatnya ekspor komoditas khususnya batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO).

4. Laju inflasi Indonesia jauh lebih moderat dibandingkan dengan negara lain, hal ini dikarenakan peran APBN sebagai shock absorber. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2022 tercatat 5,71% (yoy), sementara Inflasi volatile food turun menjadi 7,19% (yoy). Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q3 2022 diproyeksikan tetap sehat ditopang kinerja neraca perdagangan yang membukukan surplus US$ 14,9 miliar."

5. Kinerja APBN menunjukkan Kinerja yang positif. Dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga bulan September 2022 surplus anggaran mencapai Rp 60,9 triliun (0,33% PDB) dan Keseimbangan Primer surplus Rp 339,4 triliun.

"Dengan seluruh capaian ini, kita tetap optimis namun juga waspada di tengah ketidakpastian saat ini," tegas Sri Mulyani. 

Meski terkesan melunak, sikap waspada yang disebutkan Sri Mulyani adalah yang sebelumnya diakui sebagai pemantik seringnya peringatan 'badai gelap' dikeluarkan pemerintah beberapa waktu belakangan. Tak hanya sekali, pemerintah dalam setiap kesempatan memperingatkan ancaman 'badai gelap' di tahun 2023 melihat perkembangan ekonomi di sejumlah negara. 

Dia menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menakut-nakuti masyarakat, dengan berbagi kondisi dunia. Dan berharap dengan berbagi cerita soal resesi, semua pihak dapat lebih waspada.

"IMF bilang pada 2023 is gonna be dark. itu yang disebut gelap. Kalau saya bicara begitu dianggap menakuti-nakuti padahal sebetulnya tidak. Saya hanya menyampaikan risiko itu ada dan kita harus waspada," tegasnya beberapa waktu lalu.

Di mana, Kemenkeu mencatat, risiko yang bisa ditimbulkan ketidakpastian global masih tinggi, diantaranya: 

1. Scarring effect inflasi yang tinggi, berpotensi memicu stagflasi. Kenaikan inflasi yang tinggi akan meningkatkan suku bunga yang kem, kemudian direspons dengan meningkatnya suku bunga.

2. Perlambatan ekonomi global mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi domestik. Karena keterlibatan Indonesia dalam perekonomian global yang cukup aktif tentunya akan berpengaruh terhadap perekonomian domestik, namun hal ini diantisipasi dengan upaya yang mengarah pada kemandirian ekonomi.

3. Perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan gangguan sisi suplai sehingga harga komoditas menjadi lebih tinggi. Hal ini berpengaruh pada kenaikan biaya impor Indonesia.

4. Pengetatan kebijakan moneter secara agresif sehingga berdampak pada tekanan terhadap nilai tukar.

5. Potensi moderasi harga komoditas.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sri Mulyani Ungkap Tanda-tanda RI Selamat dari Momok Inflasi


(dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading