Awas! RI Perlu Waspada, Korban 'Tsunami' PHK 79.000 Lebih

News - Eqqi Syahputra, CNBC Indonesia
05 November 2022 11:40
Suasana sepi pabrik garmen PT. Fotexco Busana International, Gn. Putri, Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/11/2022). (Tangkapan layar CNBC Indonesia TV) Foto: Suasana sepi pabrik garmen PT. Fotexco Busana International, Gn. Putri, Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/11/2022). (Tangkapan layar CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Adanya resesi global turut berdampak kepada banyak industri dan perusahaan di Indonesia yang menjadi kekurangan permintaan ekspor. Hal ini pun menyebabkan dampak berkelanjutan dimana terdapat pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya.

Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Aloysius Budi Santoso mengatakan pihaknya mencatat hingga akhir Oktober 2022, sudah ada 79.316 buruh di sektor padat karya jadi korban PHK.

Bahkan, angka tersebut belum termasuk jumlah buruh yang jadi korban PHK di industri alas kaki nasional yang dilaporkan juga mengalami penurunan permintaan ekspor 40%-50%.

"Per akhir Oktober 2022 sudah ada 79.316 orang dari 127 perusahaan. Sifatnya ada yang memang PHK, ada yang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tidak diteruskan. Ada juga yang memang karena pabrik pada akhirnya tutup produksi," kata Aloysius kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (5/11/2022).

Untuk wilayah, menurut Aloysius, PHK atau pengurangan karyawan terjadi paling banyak di Jawa Barat.

"Untuk 3 besar daerah dengan jumlah PHK maupun PKWT tidak diteruskan itu adalah Bogor, Sukabumi, dan Subang. Kalau yang pabriknya banyak tutup produksi itu di Bogor dan Purwakarta. Ini daerah-daerah dengan jumlah terbesar dari kasus yang masuk sampai saat ini," lanjutnya.

Dia menjabarkan, industri padat karya dihadapkan tantangan lonjakan biaya-biaya. Akibatnya, kata dia, tak mengejutkan jika perusahaan kemudian memilih menjadi importir untuk dijual kembali di pasar dalam negeri.

"Sekarang itu lebih murah impor, lalu dijual di dalam negeri. Daripada menjadi produsen atau membangun manufaktur. Industri padat karya menghadapi kompetisi dalam semua hal. Mulai dari regulasi, iklim, dan seterusnya," kata dia.

Bahkan, tukas dia, menjadi importir lebih mudah ketika terjadi masalah atau tekanan seperti saat ini.

"Jangan dikira tutup pabrik itu tidak gampang. Jangan dibayangkan sederhana. Setengah mati loh, dengan biaya dan tanggung jawab hutang bank dan sebagainya," tambah Aloysius.

Karena itu, ujarnya, dibutuhkan langkah bersama untuk menghindari gelombang PHK yang semakin luas akibat permintaan pasar ekspor yang kian drastis.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cegah PHK Melebar Efek Krisis Global, Kemnaker Lakukan Apa?


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading