Dinilai Ambisius, Target Inklusi Keuangan RI Bisa Tercapai?

News - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
24 October 2022 17:40
Pakar kebijakan publik dari Harvard Kennedy School, Prof. Jay K. Rosengard dalam acara Financial Inclusion Talks. (Tangkapan Layar) Foto: Pakar kebijakan publik dari Harvard Kennedy School, Prof. Jay K. Rosengard dalam acara Financial Inclusion Talks. (Tangkapan Layar)

Jakarta, CNBC Indonesia- Pakar kebijakan publik dari Harvard Kennedy School, Jay K. Rosengard mengungkapkan target inklusi keuangan Indonesia yang mencapai 90% hingga 2024 terlalu ambisius.

Pasalnya kata dia hampir setengah dari populasi di Indonesia masih unbanked, sedangkan beberapa dari mereka yang memiliki rekening bank masih underbank. Adapun ada sebanyak 48% yang masih perlu dikejar jika target inklusi keuangan di Indonesia sebesar 90% pada 2024.

Meski demikian, dia menilai bahwa target itu bisa dicapai. Sebab kemajuan inklusi keuangan Indonesia terbilang luar biasa.

"Jika melihat Global Findex Database dari Bank Dunia, dalam beberapa tahun mereka memantau dunia dan inklusi keuangan menggunakan standar dan alat ukur yang sama. Beberapa dekade yang lalu, kurang lebih ada 20% orang Indonesia yang memiliki rekening bank, saat ini menjadi sekitar 52%," jelas dia dia dalam G20 Financial Inclusion Talks CNBC Indonesia, Senin (24/10/2022).

Lebih lanjut kata dia, kemajuan inklusi keuangan terjadi pada layanan pembayaran dan tabungan. Di mana pembayaran menjadi layanan keuangan paling diminati saat ini di Indonesia.

"Saya rasa pembayaran adalah layanan nomor satu yang bisa diakses dengan mudah, sektor terbaik untuk membangun banyak kemajuan. Tabungan adalah layanan kedua yang paling diminati," ungkap dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Sunarso menyebut bahwa dalam menghadapi tantangan inklusi keuangan, BRI telah memperluas akses keuangan, termasuk di wilayah 3T. Menurut dia, dalam langkah BRI memperluas akses keuangan adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat daripada advokasi.

"Jadi UMKM sesungguhnya lebih membutuhkan edukasi daripada advokasi. Karena dengan edukasi mereka nanti bisa menjadi sesuatu yang menarik, dan menarik itu mendorong kompetisi dari perbankan, dan kompetisi dari perbankan nanti akan memberikan bagi mereka pilihan," ungkap dia.

Selain advokasi, kata Sunarso, dalam mengejar inklusi keuangan BRI memberikan layanan hybrid bank melalui Agen BRIlink. Hal ini dilakukan karena meski masyarakat sudah terdigitalisasi, mereka masih awam dengan adanya layanan keuangan digital.

"Ternyata mereka familiar dengan gadget, tapi mereka belum cukup paham produk-produk keuangan, apalagi produk keuangan yang di-deliver melalui instrumen digital," jelas dia.

Menurut Sunarso, hal ini menjadi salah satu kendala lainnya dalam mengejar inklusi keuangan di Indonesia.

"Jadi itulah kemudian BRI datang dengan strategi hybrid bank. Jadi digitalisasi kita siapkan dari sekarang untuk menjangkau masyarakat yang sudah digital. Tapi kemudian masyarakat yang sekarang belum digital, itu tetap harus kita layani," tegas Sunarso.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terima Kasih, KPR Lovers! Kredit Bank RI Terus Tumbuh...


(dpu/dpu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading