Bengkak, Proyek Kereta Cepat JKT-BDG Bakal Disuntik Rp 3,2 T

News - Romys Binekasri, CNBC Indonesia
29 September 2022 11:40
Seluruh Rangkaian EMU KCJB Sudah Selesai Diproduksi Foto: foto/ Seluruh Rangkaian EMU KCJB Sudah Selesai Diproduksi /Dok. KCIC

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menyiapkan tambahan dana lewat penyertaan modal negara (PMN) Rp 3,2 triliun untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan pekan depan akan ada rapat komite untuk membahas PMN tersebut.

"Jadi memang kami sedang skemakan," kata pria yang akrab disapa Tiko di Kantor Kementerian BUMN, dikutip Kamis (29/9/2022).

Nantinya, Tiko menyebut, dana Rp 3,2 triliun tersebut akan diberikan kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI).

"Jadi memang itu kan, tidak ada project yang tidak ada equitasnya. Porsi equitasnya 25% itu memang kami PMN, tadinya memang tidak ada PMN, tadinya pakai uang INKA dan KAI, tapi karena Covid-19 kan KAI bermasalah, kami perkuat KAI-nya," jelasnya.

Sebagai informasi, biaya pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCKB) membengkak dari rencana awal. Untuk menutupi kekurangan dana tersebut, Indonesia sebagai salah satu pemilik proyek akan mengambil pinjaman.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan sebanyak 25% dari kebutuhan dana untuk penyelesaian tersebut akan ditanggung oleh konsorsium BUMN Indonesia, yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), dan konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co Ltd, sesuai dengan komposisi saham.

Dalam proyek ini, PSBI memegang sebanyak 60% saham KCIC sebagai pemilik proyek. Sementara, sisanya yang sebesar 40% dimiliki Beijing Yawan.

Arya memperkirakan, PSBI akan menalangi kebutuhan dana sebesar Rp 4 triliun. Dana itu berasal dari penyertaan modal negara (PMN) yang masuk lewat PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Sedangkan, konsorsium China diperkirakan akan menambal Rp 3 triliun.

Sementara sisanya, sebanyak 75% dari pembengkakan biaya akan ditutup melalui utang. Utang tersebut nantinya akan dibayar setelah kereta beroperasi.

Sayangnya, Arya belum dapat mengumumkan dari mana pinjaman tersebut berasal. Namun, dia memastikan bahwa pinjaman itu akan atas nama KCJB. "Kita cari kan, kita lagi cari nih, bisa dari bank China dan sebagainya, lagi dicari, bisa lah," tuturnya.

Sebagai informasi, biaya pembangunan proyek KCJB membengkak dari penawaran awal oleh pemerintah China pada 2015 lalu. Jumlah dana yang dibutuhkan membengkak menjadi Rp 28,5 triliun. Sehingga maksimal anggaran pembangunan yang dibutuhkan Rp 118,5 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Top! 'Peluru' Kereta Cepat dari China Pertama Tiba di RI


(wed/wed)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading