Internasional

Nuklir Rusia Teror Ukraina, Putin: Ini Bukan Gertak Sambal!

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
23 September 2022 08:55
Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara selama pertemuan di kompleks industri militer di Kremlin, 20 September 2022, di Moskow, Rusia. (Getty Images/Contributor) Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara selama pertemuan di kompleks industri militer di Kremlin, 20 September 2022, di Moskow, Rusia. (Getty Images/Contributor)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menebar ancaman penggunaan nuklir dalam perang dengan negara tetangganya, di mana ia mengumumkan mobilisasi parsial di Ukraina.

Pengumuman disampaikan langsung Putin di media televisi pada Rabu (21/9/2022). Ini muncul setelah serangan balik Ukraina, yang diyakini memakan banyak korban tentara Rusia.

Putin memperingatkan Barat bahwa ini bukanlah gertakan semata. Rusia, tegasnya, akan melakukan segala cara untuk melindungi wilayahnya. Ia bahkan menggarisbawahi ancaman nuklir Rusia, di mana Moskow memiliki berbagai alat penghancur untuk melindungi negaranya.


"Saya ingin mengingatkan Anda bahwa negara kami juga memiliki berbagai alat penghancur untuk melindungi Rusia dan rakyat, kami pasti akan menggunakan semua cara yang kami miliki," tegas Putin, dikutip Jumat (23/9/2022).

Dengan ini Putin pun mengatakan sudah menandatangani dekrit khusus. Mobilisasi parsial sendiri menempatkan Rusia situasi perang di mana wajib militer warga menjadi keharusan.

Pengumuman mobilisasi parsial itu berarti bahwa semua pihak di negeri itu harus berkontribusi lebih pada upaya perang. Bukan cuma warga tapi juga bisnis.

Ia juga memberi dukungan pada pencaplokan wilayah Timur dan Selatan Ukraina melalui referendum. Sebelumnya pro-Rusia mengumumkan pemungutan suara berlangsung minggu ini.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Sergei Shoigu mengatakan negaranya akan mengirimkan 300.000 pasukan ke Ukraina. Ini juga mematahkan pandangan bahwa Rusia telah kekurangan pasukan akibat banyaknya kematian militer saat menyerang tetangganya itu.

Menurut Shoigu, Rusia memiliki kemampuan mobilisasi yang sangat besar. Bahkan dapat memanggil hampir 25 juta orang dengan beberapa pengalaman militer untuk berpartisipasi dalam kegiatan memperkuat negara itu saat perang.

"Jadi bisa dikatakan bahwa mobilisasi parsial ini hanya 1%, atau sedikit lebih dari jumlah total orang yang dapat dimobilisasi," katanya dikutip dari Russia Today.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Putin Ancam Negara Barat, Ukraina Bisa Menjadi Tragedi


(tfa/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading