Internasional

Maaf Biden, Data lni Bantah AS Menang Lawan Covid-19

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
22 September 2022 08:20
U.S. President Joe Biden delivers remarks during welcoming ceremony at Ben Gurion International Airport in Lod, near Tel Aviv, Israel, July 13, 2022. REUTERS/Amir Cohen Foto: REUTERS/AMIR COHEN

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa waktu lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan bahwa pandemi Covid-19 di AS sudah berakhir. Ia menuturkannya di sebuah program dialog dengan TV setempat.

"Pandemi sudah berakhir. Kami masih memiliki masalah dengan Covid. Kami masih melakukan banyak pekerjaan untuk itu. Tetapi pandemi sudah berakhir," kata Biden dalam program '60 Minutes' CBS, dikutip CNN International.

Lalu, apakah demikian?


Sejumlah data menunjukkan pernyataan ini kontras dengan realita. Di mana negeri Paman Sam masih harus bergulat dengan wabah tersebut.

Data dari Universitas Johns Hopkins menunjukkan, rata-rata kematian akibat Covid-19 dalam tujuh hari belakangan di AS mencapai lebih dari 400 orang, lebih dari 3.000 orang meninggal dalam sepekan terakhir. Sebagai perbandingan, pada Januari 2021 lebih dari 23.000 orang dilaporkan meninggal karena virus selama rentang satu minggu.

Melansir Reuters, jumlah korban pandemi Covid-19 memang telah berkurang secara signifikan sejak awal masa jabatan Biden. Berkurangnya korban dipicu oleh perawatan yang ditingkatkan, obat-obatan, dan vaksinasi menjadi lebih banyak tersedia.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pada tanggal 18 September 2022, ada 14.163 total kasus baru di Amerika. Dengan ini CDC mencatat total kasus Covid-19 sebanyak 95.494.560.

Namu AS tetap mencatat ada sekitar 65.000 kasus baru Covid-19 yang dilaporkan setiap hari selama dua minggu terakhir dan kasus yang dilaporkan menurun di hampir setiap negara bagian. Di seluruh Amerika Serikat (AS), sekitar 400 orang meninggal setiap hari akibat Covid-19.

Meski begitu, vaksinasi untuk warganya juga cukup memperlihatkan perkembangan yang signifikan mulai. Capaian untuk vaksin pertama dengan mencapai 79.3% sementara untuk vaksin kedua mencapai 67.7%.

Untuk booster pertama mencapai 48.6% dan booster kedua mencapai 34.7%. Di mana umur di atas 50 tahun sebanyak 34% dan di atas 65 tahun sebanyak 41.9%.

Sementara pakar kesehatan masyarakat AS, dan bahkan beberapa pejabat administrasi merespons komentar Biden terkait kemenangan atas Covid-19. Dengan angka kematian yang terus terjadi di AS, tak sedikit yang melayangkan kritik pada Biden.

Mengutip laporan Time, dokter penyakit menular Boghuma Titanji dari Emory University di Atlanta, AS mengatakan bahwa akhir pandemi tidak ditentukan semata-mata oleh sains atau data kesehatan masyarakat. Tetapi melibatkan pertimbangan sosial dan politik.

"Dengan definisi ini, akan sangat sulit untuk menyimpulkan bahwa pandemi Covid-19 telah berakhir," katanya.

Pejabat pemerintah mengatakan bahwa komentar Biden soal akhir pendemi itu tidak menandakan perubahan kebijakan. Bahkan, tidak ada rencana untuk mencabut darurat kesehatan masyarakat Covid-19 yang sedang berlangsung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengkategorikan Covid-19 sebagai pandemi. Meskipun direktur jenderalnya, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa akhir pandemi sudah di depan mata.

Sebab, ia mencatat bahwa kematian harian di seluruh dunia sudah berada pada level terendah sejak pandemi dimulai. Hingga saat ini, menurut data Worldometers, AS mencatat total 97.704.308 kasus infeksi dan 1.080.151 kasus kematian.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

AS Bakal Batasi Informasi Intelijen untuk Ukraina, Kenapa?


(tfa/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading