Internasional

Inggris Makin Ngeri, Data Ini Tunjukkan Krisis Makin Jadi

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
31 August 2022 07:30
A Union Jack flag flies above sunbathers on Brighton beach in southern England on July 23, 2008. Temperatures are expected to reach 26C (79F) in parts of Britain Wednesday. AFP PHOTO/CARL DE SOUZA   (Photo credit should read CARL DE SOUZA/AFP via Getty Images) Foto: Bendera Inggris (Photo credit should read CARL DE SOUZA/AFP via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis biaya hidup yang terjadi di Inggris diprediksi semakin parah. Didorong oleh kenaikan harga energi, sebuah laporan menyebut bahwa inflasi di Negeri Ratu Elizabeth itu dapat menyentuh 22%.

Dalam sebuah rilis Goldman Sachs, lembaga keuangan itu memperkirakan inflasi utama dapat mencapai puncaknya pada 22,4% dan produk domestik bruto dapat turun sebesar 3,4%. Ini akan terjadi apabila biaya energi terus meningkat pada ritme seperti saat ini.

Regulator energi Inggris mengumumkan Jumat bahwa mereka akan menaikkan batas utamanya pada tagihan energi konsumen mulai 1 Oktober untuk mengimbangi kenaikan harga gas grosir. Diketahui, harga gas grosir gas telah melonjak 145% di Inggris sejak awal Juli.

Ofgem berjanji akan menghitung ulang batas harganya lagi dalam tiga bulan. Namun, Goldman mengatakan bahwa jika harga tetap terus-menerus lebih tinggi, kenaikannya mungkin dapat mencapai 80% pada Januari mendatang.

"Dalam skenario di mana harga gas tetap tinggi pada level saat ini, kami memperkirakan batas harga akan meningkat lebih dari 80% pada Januari ... yang akan menyiratkan inflasi utama memuncak pada 22,4%," kata ekonom Goldman, yang dipimpin oleh Sven Jari Stehn, dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC International, Selasa (30/8/2022).

Meski begitu, Goldman juga memberikan perhitungan apabila harga energi tidak melonjak kembali. Mereka mengatakan bila ini terjadi, inflasi puncak Inggris kemungkinan akan mencapai 14,8% pada Januari.

Lembaga keuangan itu juga mengatakan bahwa Inggris kemungkinan akan jatuh ke dalam resesi pada kuartal keempat. Diperkirakan bahwa ekonomi Inggris akan berkontraksi sebesar -0,3% secara non-tahunan pada kuartal keempat tahun ini.

Di tahun depan, Goldman juga mengatakan tetap akan terjadi resesi -0,4% dan -0,3% pada kuartal pertama dan kedua. "Kami sekarang memperkirakan krisis biaya hidup yang semakin dalam akan mendorong ekonomi Inggris ke dalam resesi akhir tahun ini," kata catatan itu.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini 'Biang Kerok' Perempuan Inggris Ramai Jadi Pekerja Seks


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading