Internasional

Putin Makin Pening, Ada Pemberontakan dan Pasukan Ogah Perang

News - luc, CNBC Indonesia
29 August 2022 06:30
Russia's President Vladimir Putin attends a parade marking Navy Day in Saint Petersburg, Russia July 31, 2022. REUTERS/Maxim Shemetov Foto: REUTERS/MAXIM SHEMETOV

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang protes diyakini mulai terjadi di internal Rusia terkait serangan negara itu ke Ukraina. Protes politik terhadap Presiden Vladimir Putin dan perangnya telah meningkat sejak pekan lalu.

Pembunuhan Darya Dugina, putri dari ideolog ultranasionalis Aleksander Dugin, menjadi salah satu indikasinya. Meskipun FSB menyalahkan Kyiv, kelompok partisan Rusia yang sampai sekarang tidak diketahui, menyebut diri mereka Tentara Republik Nasional, mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu dan bersumpah untuk "menghancurkan" Putin.

Pembunuhan Dugina menimbulkan pertanyaan apakah Rusia sedang meluncur ke arah pemberontakan politik kekerasan yang dapat menyebabkan penggulingan Putin dan rezimnya.

Daniil Chebykin, mantan juru kampanye terkemuka untuk Alexey Navalny di Omsk, mengatakan kepada Express bahwa mayoritas orang Rusia menentang perang dan bahwa negara itu memang sedang menuju revolusi.

Namun dia menekankan bahwa perubahan rezim tidak harus dengan kekerasan dan dapat diwujudkan melalui cara-cara damai.

"Pertama-tama setiap perubahan rezim adalah sebuah revolusi. Apakah harus kekerasan? Revolusi tidak selalu berarti pertumpahan darah. Kita telah melihat banyak revolusi damai di dunia, termasuk di Asia Tengah dan negara-negara lain. Saya akan mengimbau orang-orang untuk membawa revolusi damai," katanya, dikutip Senin (29/8/2022).

Sejauh ini, Putin masih mempertahankan dukungan dari para elitnya. Namun, kontrol Putin dikatakan kian rentan seiring dengan kondisi perang yang di luar ekspektasi.

"Saat untuk bertindak adalah ketika rezim runtuh. Sekarang semuanya menuju akhir yang mengerikan. Masih belum jelas berapa lama ini akan berlanjut - tetapi pada saat Putin kehilangan kekuasaan, maka semua pendukung demokrasi, kemajuan dan perdamaian harus dengan jelas dan kuat menyampaikan pendapat mereka untuk menghindari pengulangan," tuturnya.

Sementara itu, bukti terbaru bahwa moral pasukan Putin terus bermunculan. Sejumlah pasukan Rusia yang tengah berperang di Ukraina diketahui memohon untuk pulang.

The Kyiv Post melaporkan salah satu anggota Brigade Infanteri Bermotor Independen ke-64 Rusia mengatakan dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Vazhnie Istorii bahwa unitnya menderita korban sekitar 40% dan empat dari lima orang yang selamat menyerahkan surat pengunduran diri.

Dalam sebuah laporan dalam publikasi yang sama, Danil Frolkin, seorang anggota yang telah bertempur di sektor Kyiv dan Donetsk, mengatakan bahwa para komandan Rusia menolak untuk menerima surat-surat itu.

"Mereka tidak akan mengakhiri kontrak saya dan mereka tidak akan membiarkan saya pulang," katanya.

Selain itu, pasukan Rusia yang tengah bertugas di Kazakhstan pun dikabarkan menolak ditarik kembali ke Rusia karena khawatir akan ditugaskan untuk berperang Ukraina.

Adapun, pasukan perdamaian Rusia di Kazakhstan telah ditempatkan di sana sejak Januari tahun ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Putin Umumkan Kemenangan Rusia di Mariupol, Kenapa Buru-buru?


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading