Rusia Kesal Disebut AS Sponsor Terorisme, Bakal Perang?

News - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
14 August 2022 06:18
Kombinasi gambar satelit menunjukkan di sebelah kiri sebuah kapal kargo berbendera Rusia SV Nikolay yang berlabuh di Sevastopol, Crimea, Senin (18/8/2022) dan di sebelah kanan, sebuah kapal yang diidentifikasi Reuters melalui data pelacakan kapal sebagai SV Nikolay di Novorossiysk, Rusia, Minggu (29/5/2022). (Planet Labs PBC/Handout via REUTERS) Foto: Kombinasi gambar satelit menunjukkan di sebelah kiri sebuah kapal kargo berbendera Rusia SV Nikolay yang berlabuh di Sevastopol, Krimea, Senin (18/8/2022) dan di sebelah kanan, sebuah kapal yang diidentifikasi Reuters melalui data pelacakan kapal sebagai SV Nikolay di Novorossiysk, Rusia, Minggu (29/5/2022). (Planet Labs PBC/Handout via REUTERS)via REUTERS/PLANET LABS PBC

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) dalam posisi yang terancam. Bahkan, Moskow mengatakan ada kemungkinan bahwa hubungan kedua negara tak akan kembali seperti sediakala.

Kepala Departemen Amerika Utara Kementerian Luar Negeri Rusia, Aleksandr Darichev, mengatakan kerusakan hubungan keduanya akan permanen bila AS menunjuk Rusia sebagai negara sponsor terorisme.

"Saya tidak ingin berfilsafat tentang apa yang mungkin dan apa yang tidak dalam situasi bergejolak saat ini ketika Barat yang dipimpin AS telah menginjak-injak hukum internasional dan absolut," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan media resmi Rusia, TASS, seperti diwartakan Russia Today, Sabtu (13/8/2022).


"Implementasinya akan berarti bahwa Washington telah melewati titik tidak bisa kembali dengan kerusakan jaminan paling serius untuk hubungan bilateral, hingga penurunan tingkat mereka dan bahkan pemutusan semua hubungan."

Pada akhir Juli, Senat AS dengan suara bulat menyetujui resolusi yang tidak mengikat untuk memaksa Menteri Luar Negeri Antony Blinken menetapkan Rusia sebagai negara sponsor terorisme. Hal ini dilakukan lantaran penentangan Negeri Paman Sam atas operasi militer Moskow di Ukraina.

Di DPR, langkah serupa juga didukung Ketua DPR Nancy Pelosi. Menurut sebuah laporan oleh Politico, Pelosi bahkan memperingatkan Blinken bahwa jika ia tidak melanjutkan tindakan itu, Kongres akan melakukannya sendiri dengan mengesahkan undang-undang baru.

Anggota parlemen mengatakan bahwa menempatkan Rusia pada daftar yang sama dengan Kuba, Korea Utara, Iran, dan Suriah akan memungkinkan AS untuk lebih meningkatkan tekanan pada Moskow dengan memperluas sanksi di luar sektor ekonomi.

Meski begitu, Departemen Luar Negeri sejauh ini enggan memenuhi permintaan tersebut. Mereka beralasan bahwa deretan sanksi ekonomi yang telah dijatuhkan pada Rusia atas konflik di Ukraina sudah cukup.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Menanti 'Kopdar' Zelensky dan Putin


(RCI/dhf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading