Warga RI 'Doyan' ke Luar Negeri, Jokowi Malah Sedih! Kenapa?

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
10 August 2022 09:05
Rapat terbatas terkait PPKM yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 18 Juli 2022. (Dok: Biro Pers Sekretariat Presiden) Foto: Rapat terbatas terkait PPKM yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 18 Juli 2022. (Dok: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sedih banyak warga negara Indonesia yang pergi ke luar negeri. Bukan karena liburan, melainkan banyak WNI yang justru lebih memilih berobat di luar negeri ketimbang di dalam negeri.

Kesedihan Jokowi sejatinya bukan tanpa alasan. Bukan karena berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang dimiliki Indonesia yang tidak memadai, melainkan juga karena devisa yang keluar untuk membiayai pengobatan yang begitu besar.


"Berapa capital outflow kita, uang yang keluar membiayai rumah sakit? Lebih dari Rp 110 triliun tiap tahunnya," kata Jokowi saat meresmikan Tower A dan B RSUD dr. Soedarso di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, seperti dikutip Rabu (10/8/2022)

Jokowi lantas merujuk pada pernyataan yang disampaikan oleh Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji yang mengatakan banyak warga negara Indonesia yang lebih memilih berobat ke Kuching, Malaysia.

"Saya paling sedih kalau mendengar ada warga negara kita yang sakit, kemudian perginya ke luar negeri, ke Malaysia, ke Singapura, ada yang ke Jepang, ada yang ke Amerika," kata Jokowi.

Jokowi menekankan komitmennya untuk terus memperbaiki sejumlah fasilitas kesehatan yang ada. Khusus di RSUD Dr. Soedarso sendiri, kata Jokowi, kini fasilitasnya pun tidak kalah dengan rumah sakit internasional lainnya.

"Tadi saya cek, ada 277 kamar tidur, cek ke ruang operasi, ICU semuanya saya lihat. Sudah super modern. Saya ingatkan, enggak usah lagi ke luar, di sini sudah siap dan cukup menangani kasus-kasus yang ada," katanya.

Jokowi mengatakan, pandemi Covid-19 yang terjadi dalam 2,5 tahun terakhir telah memberikan pelajaran bagaimana kurangnya sistem pelayanan kesehatan saat ini.

"Mana yang harus kita perbaiki, mana yang lamban yang harus dipercepat, sarana apa yang harus dibeli, semuanya menjadi kelihatan," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Negara Lain Tak Punya! Nih 'Jurus Rahasia' Jokowi Lawan Covid


(cha/cha)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading