Internasional

'Teror Nuklir Rusia' Ancam Eropa, Bisa Berujung Bencana

News - luc, CNBC Indonesia
08 August 2022 06:40
This image made from a video released by Zaporizhzhia nuclear power plant shows bright flaring object landing in grounds of the nuclear plant in Enerhodar, Ukraine Friday, March 4, 2022. Russian forces shelled Europe’s largest nuclear plant early Friday, sparking a fire as they pressed their attack on a crucial energy-producing Ukrainian city and gained ground in their bid to cut off the country from the sea. (Zaporizhzhia nuclear power plant via AP) Foto: AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Ukraina menyatakan bahwa serangan rusia ke pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhia telah merusak tiga sensor radiasi dan melukai seorang pekerja. Adapun, fasilitas nuklir itu merupakan yang terbesar di Eropa.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut penembakan Sabtu malam itu sebagai "teror nuklir Rusia" yang memerlukan lebih banyak sanksi internasional.

"Tidak ada negara seperti itu di dunia yang bisa merasa aman ketika negara teroris menembaki pembangkit listrik tenaga nuklir," kata Zelensky dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Minggu (7/8/2022), dikutip Reuters.


Namun, otoritas yang ditempatkan Rusia di daerah itu mengatakan bahwa Ukraina yang menghantam situs itu dengan beberapa peluncur roket, merusak gedung-gedung administrasi dan daerah di dekat fasilitas penyimpanan.

Peristiwa di Zaporizhzhia - di mana Kyiv sebelumnya menuduh bahwa Rusia menabrak kabel listrik pada hari Jumat - telah mengkhawatirkan dunia.

"(Ini) menggarisbawahi risiko yang sangat nyata dari bencana nuklir," tutur kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Mariano Grossi.

Di tempat lain, kesepakatan untuk membuka blokir ekspor makanan Ukraina dan mengurangi kekurangan global. Ekspor terus meningkat ketika empat kapal lainnya berlayar keluar dari pelabuhan Laut Hitam Ukraina sejak awal serangan Rusia pada 24 Februari lalu.

Empat kapal keluar membawa hampir 170.000 ton jagung dan makanan lainnya. Mereka berlayar di bawah kesepakatan yang ditengahi oleh PBB dan Turki untuk mencoba membantu meringankan melonjaknya harga pangan global akibat perang.

Sebelum serangan Moskow, yang oleh Presiden Rusia Vladimir Putin disebut sebagai "operasi militer khusus", Rusia dan Ukraina bersama-sama menyumbang hampir sepertiga dari ekspor gandum global. Gangguan sejak itu telah mengancam kelaparan di beberapa bagian dunia.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mantan Perwira Rusia Blak-blakan Kondisi Perang Sesungguhnya


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading