RI Bisa Jadi 'Penyelamat' Dunia Dari Batu Bara

News - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
22 June 2022 10:00
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia bak 'madu', sangking manisnya dikerubungi oleh banyak lebah. Sekarang Indonesia sedang dilirik oleh dunia khusunya atas berlimpahnya sumber daya alam mineral seperti batu bara.

Beberapa negara tengah melobi Indonesia untuk mensuplai bahkan menambahkan suplai batu baranya ke negara-negara tersebut. Yang terbaru adalah negara-negara Uni Eropa (UE). Karena seperti yang diketahui, bahwa negara-negara Eropa ini sedang 'ngambek' dengan Rusia atas terjadinya perang Rusia dan Ukraina.

Perang itu, menjadikan negara-negara Eropa memberikan sanksi ekonomi termasuk menghentikan impor batu bara dari Rusia. Akibat rencana pemberhentian impor batu bara dari Rusia, beberapa negara yang diketahui sedang melobi batu bara Indonesia adalah Jerman dan Polandia.


Diketahui juga ada India yang saat ini sedang dilanda gelombang panas, sehingga membutuhkan pasokan listrik dari batu bara yang berlebih. Yang katanya saat ini juga sedang melobi Indonesia untuk menambah suplai batu baranya.

Presiden RI Joko Widodo mengaku telah ditelepon oleh 5 Presiden dan Perdana Menteri (PM) negara lain, telepon tersebut berurusan dengan permintaan batu bara dari Indonesia. Jika tidak dikirimi batu bara, maka listrik dan industri negara-negara tersebut bakal padam.

"Ada lima Presiden dan Perdana Menteri yang telepon saya, Presiden Jokowi mohon kita dikirim batu baranya segera dengan cepat. Kalau tidak kita mati listrik, industri kita mati," terang Jokowi dalam acara Rakernas PDI Perjuangan di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (21/6/2022).

Dari banyaknya permintaan ekspor batu bara, Jokowi menyadari bahwa Indonesia memiliki keuatan yang besar terhadap batu bara yang ada di dalam negeri. Tak hanya batu bara, Indonesia juga memiliki kekuatan yang besar dari produk Crude Palm Oil (CPO), yang mana ada beberapa negara juga yang meminta untuk RI mengekspor segera CPO-nya.

"Waktu minyak goreng kita setop ekspor untuk kebutuhan dalam negeri dan batu bara juga. Ada dua PM Presiden telepon saya. Pak kalau bapak tidak kirim ke kami akan terjadi gejolak sosial-politik di negara saya. Tolong bisa dikirimkan. saya cek, ada stok 3 juta ton kemudian permintaannya 200 ribu ton, 120 ribu ton tadi kita tau posisis kita ada di mana," tandas Jokowi.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM, Lana Saria membenarkan bahwa Jerman meminta suplai batu bara dari Indonesia. Ia bilang, sejatinya kebutuhan batu bara Jerman pada tahun 2022 mencapai 31,5 juta ton, di mana 50% direncanakan dipasok dari Rusia.

Namun, karena terjadi perang Rusia dan Ukraina, sebagai sanksi ekonomi Uni Eropa (UE), Jerman akan menutup pasokan batu bara-nya dari Rusia. Oleh sebab itu, Jerman berharap Indonesia bisa memenuhi 50% kebutuhan batu bara asal Rusia tersebut.

"Jerman berharap kebutuhan 50% yang semula dari Rusia, bisa dipenuhi dari Indonesia. Namun, setelah dilanjutkan pembicaraan lebih detail, paling banyak diharapkan 5 - 6 juta ton dapat diperoleh dari Indonesia," terang Lana kepada CNBC Indonesia, Minggu (19/6/2022).

Sementara berkenaan dengan India, Lana membenarkan ada tambahan, hanya saja ia belum bisa membeberkan secara pasti berapa permintaan tambahan suplai batu bara tersebut.

"Ya. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indianya. Jadi kami tidak bisa sampaikan dulu," tandas dia. Seperti yang diketahui, India merupakan negara tujuan ekspor batu bara kedua setelah China. Tahun 2021 Indonesia mengekspor batu bara ke India sekitar 97-an juta ton.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia sebelumnya mengatakan bahwa sudah ada beberapa permintaan ekspor ke Eropa. Bahkan, sudah ada kegiatan ekspor batu bara yang dilakukan ke Polandia.

Namun, Hendra tidak mengetahui secara pasti berapa banyak ekspor batu bara ke Eropa tersebut. " Progresnya bagus. Dengar-dengar sudah ada ekspor ke beberapa negara Eropa. Kemarin sore dengan buyer dari Polandia, infonya sudah ada ekspor yang jalan," kata Hendra kepada CNBC Indonesia, Kamis (16/6/2022).

APBI, kata Hendra akan terus meladeni permintaan beberapa potensial buyer dari Polandia dan Jerman yang difasilitasi oleh KBRI setempat.

"Selain itu kedubes Polandia juga aktif memfasilitasi perusahaan dari Polandia yang berkunjung ke Jakarta," ungkap Hendra.

Mengacu data MODI Kementerian ESDM, Sampai pada 21 Juni 2022 ini, produksi batu bara Indonesia sudah mencapai 279,96 juta ton atau 42,23% dari target produksi batu bara 2022 yang mencapai 663 juta ton.

Berikut adalah daftar negara tujuan ekspor batu bara Indonesia pada tahun 2021:

  • China: 127,7 juta ton.
  • India: 97,5 juta ton.
  • Filipina: 27,4 juta ton.
  • Jepang: 26,9 juta ton.
  • Malaysia: 26,1 juta ton.
  • Korea Selatan: 24,7 juta ton.
  • Vietnam: 17,8 juta ton.
  • Taiwan: 17 juta ton

[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

ESDM Siapkan Sanksi dan Denda DMO Batu Bara, Simak Aturannya!


(pgr/pgr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading