Internasional

Horor Penembakan Massal AS Bunuh Anak SD, Apa Kata Biden?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
25 May 2022 09:55
President Joe Biden speaks about the bombings at the Kabul airport that killed at least 12 U.S. service members, from the East Room of the White House, Thursday, Aug. 26, 2021, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC IndonesiaPenembakan massal kembali terjadi di Amerika Serikat (AS). Kali ini, terjadi di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Negara Bagian Texas yang menewaskan 21 orang.

Sebanyak 19 korban adalah anak-anak. Sementara sisanya adalah orang dewasa, termasuk guru SD tersebut.


Hal ini membuat Presiden AS Joe Biden bereaksi. Ia memerintahkan agar bendera AS dikibarkan setengah tiang di Gedung Putih dan di semua gedung dan halaman publik.

"(Ini) orang tua tidak akan pernah sama lagi. Kehilangan seorang anak seperti mengalami sepotong jiwamu dicabut," ujarnya dikutip Al Jazeera, Selasa (24/5/2022) malam waktu setempat.

"Saya muak dan lelah. Kita harus bertindak. Jangan bilang kita tidak bisa berdampak pada 'pembantaian' ini," tambahnya menawarkan bantuan kepada Gubernur Texas Greg Abbott untuk merespon penembakan fatal itu.

Kekesalan juga diutarakan Wakil Presiden AS Kamala Harris. Ia menyebut hati warga AS hancur. 

"Cukup sudah," kata Wakil Presiden Kamala Harris setelah tragedi itu. "Kita harus memiliki keberanian untuk mengambil tindakan."

Peristiwa penembakan ini terjadi di SD Robb di Uvalde, sekitar 83 mil sebelah barat San Antonio. Tersangka penembak disebut terluka parah dalam respons aparat penegak hukum dan turut tewas dalam kejadian.

Ia diidentifikasi sebagai Salvador Ramos, 18 tahun. Polisi setempat mengatakan tersangka bertindak sendiri selama kejahatan keji itu dilakukan.

"Diyakini bahwa dia meninggalkan kendaraannya, kemudian masuk ke SD Robb di Uvalde dengan pistol dan dia mungkin juga membawa senapan," kata Gubernur Texas, Greg Abbott dalam jumpa pers menjelaskan pelaku sesaat setelah kejadian.

"Dia menembak dan membunuh, secara mengerikan dan tidak dapat dipahami."

Penembakan ini adalah insiden yang paling mematikan sejak penembakan Sandy Hook 2012 di Connecticut. Kala itu 20 anak-anak dan enam staf tewas.

AS sendiri mengalami beberapa penembakan dan serangan dalam setahun terakhir. Terbaru, pada bulan lalu, sebuah penembakan yang diawali dengan lemparan bom asap terjadi di stasiun kereta bawah tanah New York dan melukai 23 orang.

AS sendiri sebenarnya telah berupaya membuat undang-undang senjata yang lebih ketat. Namun, Asosiasi Senapan Nasional AS (NRA) diyakini berperan penting dalam penolakan.

kPusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dalam data terbarunya menyebut AS telah mencatat 19.350 kasus pembunuhan dengan senjata api pada tahun 2020. Ini naik hampir 35% dibandingkan dengan tahun 2019.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Biden Undang Pemimpin ASEAN ke AS, Rayu 'Keroyok' China?


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading