Subsidi BBM Bengkak, APBN 2022 Ditambah Jadi Rp 3.106 T

News - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
19 May 2022 11:06
Kementerian Keuangan Rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR dalam penyampaian dan pengesahan Laporan Panja-panja dalam rangka Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2021 DAN RKP Tahun 2021.  (CNBC Indonesia/Lidya Julita Sembiring)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mengajukan perubahan belanja dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2022. Belanja negara tahun ini mencapai Rp 3.106 triliun.

"Usulan pemerintah belanja negara menjadi sekitar Rp. 3.106 triliun," ungkap Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah dalam rapat kerja dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Kamis (19/5/2022)


Hal ini dikarenakan ada tambahan untuk belanja subsidi energi. Pemerintah memperkirakan penambahan subsidi BBM, LPG dan listrik berkisar antara Rp 74,9 triliun. Selain itu ada kebutuhan untuk menambah biaya kompensasi bbm sebesar Rp 234 triliun serta penambahan kompensasi listrik sekitar Rp 41 triliun.

"Naiknya berbagai kebutuhan barang konsumsi rumah tangga juga meniscayakan kenaikan anggaran perlindungan sosial bagi rumah tangga miskin," kata Said membacakan permohonan pemerintah.

Sehingga pemerintah menambah anggaran perlindungan sosial sekitar Rp 18,6 triliun. Pemerintah juga memberikan tambahan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp 47,2 triliun. Namun pemerintah melakukan efisiensi dengan pengurangan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 12 triliun.

Pos belanja negara untuk pendidikan secara konsekuensi juga naik pada kisaran Rp 23,9 triliun. Penambahan beberapa pos belanja di atas juga berkonsekuensi menyerap tambahan penggunaan SAL sekitar Rp 50 triliun.

"Yang patut kita syukuri, penambahan beberapa pos belanja negara dapat kita penuhi dengan perkiraan pendapatan negara yang bertambah. Pemerintah memperkirakan kenaikan pendapatan negara menjadi Rp 2.266 triliun dari perencanaan semula pada APBN 2022 sebesar Rp 1.846 triliun," paparnya.

Maka dari itu defisit anggaran pada tahun ini diperkirakan tetap lebih rendah, dari 4,85% dari PDB menjadi 4,3-4,5%.

"Lebih rendahnya perubahan rencana defisit tahun 2022 ini makin memudahkan pemerintah softlanding ke posisi di bawah 3 persen PDB pada tahun depan," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sri Mulyani Usul ke DPR: Tambah Subsidi & Bansos, Utang Turun


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading