Temui Bos Boeing, Menhub Blak-blakan RI Butuh Banyak Pesawat

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
19 May 2022 10:20
A worker walks through the Final Assembly Area at Boeing South Carolina in North Charleston, South Carolina, United States March 25, 2018.  REUTERS/Randall Hill

Dreamliner 787-10 merupakan seri terbaru dari keluarga Dreamliner. (REUTERS/Randall Hill)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi bertemu dengan Presiden Boeing Internasional Michael A. Arthur dalam lawatannya ke Singapura acara Aviation Summit 2022. Menhub pun mengungkapkan potensi kebutuhan pesawat di Indonesia yang meningkat pada tahun ini, khususnya di saat musim mudik.

"Untuk itu saya minta pihak Boeing untuk berkomunikasi dengan sejumlah maskapai terkait dengan upaya pemenuhan kebutuhan pesawat tersebut," kata Menhub dalam keterangan, Kamis (19/5/2022).

Menhub mengatakan, pemenuhan kebutuhan pesawat terutama ditujukan untuk rute-rute daerah yang kecil yang selama ini mengalami kendala tidak adanya penerbangan.


"Kita ingin ke depannya tidak ada lagi daerah-daerah yang tidak dilayani penerbangan," katanya.

Pertemuan dengan Presiden Boeing Internasional dimanfaatkan Menhub untuk memberikan informasi bahwa pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya untuk membangkitkan kembali industri penerbangan baik nasional maupun global yang terdampak Pandemi Covid-19.

Selain itu, Mantan Dirut Angkasa Pura II ini juga membahas tentang peluang kerja sama penyediaan alat simulator penerbangan untuk melengkapi fasilitas di sekolah vokasi penerbangan yang dikelola Kementerian Perhubungan.

Sebelumnya diungkapkan jumlah armada pesawat yang beroperasi juga tengah menurun, dari 550 pesawat menjadi 350 pesawat. Padahal ramalannya pada 2022 ini diprediksi industri penerbangan Indonesia kembali menerbangkan 78 juta orang per tahun.

Dalam rangkaian acara itu juga, Menhub juga bertemu dengan Presiden International Civil Aviation Organization (ICAO) Salvatore Sciacchitano. Dimana Indonesia mendapat tawaran untuk menjadi anggota ICAO.

"Saya merasa bangga mendapat tawaran menjadi anggota dewan ICAO. Ini merupakan kejutan, karena tidak direncanakan sebelumnya. Menurut saya ini adalah pengakuan bahwa kemajuan sektor penerbangan kita diakui dunia internasional," ujarnya.

Menurutnya ini hal yang menggembirakan juga bagi seluruh stakeholder penerbangan baik operator bandara, maskapai penerbangan, regulator, dan unsur terkait lainnya. Nantinya tawaran ini akan ditindaklanjuti melalui proses ratifikasi oleh ICAO untuk meminta masukan kepada negara-negara anggota dewan ICAO.

"Kita tunggu hasil ratifikasinya. Mudah-mudahan ini dapat membawa kabar baik bagi kemajuan industri penerbangan nasional maupun secara regional di kawasan Asia Tenggara," ucapnya.

Indonesia pernah menjadi anggota Dewan ICAO Kategori III dari tahun 1962 sampai dengan tahun 2001. Kategori III merupakan perwakilan negara-negara yang memiliki wilayah geografis yang luas.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Demi Taksi Terbang,Boeing Investasi USD 450 Juta di Wisk Aero


(dce/dce)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading