Proyek Gas Raksasa Masela Tak Kunjung Ada Kemajuan, Ada Apa?

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
17 May 2022 17:10
Blok Masela (Dok.Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas), yakni Kilang Gas Alam Cair (LNG) Masela di Maluku yang dikerjakan Inpex Masela Ltd, unit Inpex Corporation, hingga kini belum terlihat kemajuan signifikan.

Padahal, revisi rencana pengembangan (Plan of Development/ PoD) Blok Masela ini telah disetujui Pemerintah Indonesia pada 16 Juli 2019 lalu, dan ditargetkan bisa mulai bisa beroperasi pada 2027 mendatang.

Lantas, apa yang menyebabkan proyek ini berjalan lambat dan sudah sejauh mana progresnya?


Deputi Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Julius Wiratno mengatakan, sampai saat ini pengerjaan desain teknis atau Front End Engineering Design (FEED) fasilitas LNG Masela ini belum mulai dikerjakan.

"FEED saja belum mulai. Tender saja belum," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (17/05/2022).

Dengan mundurnya pengerjaan FEED, maka tentunya ini akan berimbas pada keputusan akhir investasi atau Final Investment Decision (FID).

"FID masih lama. FEED saja belum mulai," ujarnya.

Padahal, pada saat revisi PoD Masela ini disetujui Pemerintah Indonesia pada 2019 lalu, CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda sempat menuturkan bahwa pihaknya akan melakukan FEED pada 2020 yang diperkirakan akan membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun. Kemudian, baru memproses FID yang ditargetkan bisa dilakukan pada 2022-2023.

"FEED-nya akan dimulai pada 2020, biasanya memakan waktu sekitar 2-3 tahun untuk penyelesaian, setelahnya baru kami akan memproses FID, sekitar 3-4 tahun dari sekarang," jelas Takayuki saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Julius mengatakan, saat ini Inpex masih melakukan studi penerapan teknologi rendah karbon yakni Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).

Studi ini menurutnya dilakukan bersama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Lemigas Kementerian ESDM.

Menurut Julius, studi tersebut diproyeksikan akan memakan waktu hingga satu bulan ke depan.

"Sampai Juli (selesai). Lanjut dengan review dan evaluasi skenario pengembangan nanti kalau sudah diusulkan oleh Inpex," katanya.

Beberapa waktu yang lalu, CEO Inpex Takayuki Ueda menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan studi yang komprehensif seperti pengenalan CCUS untuk membuat proyek LNG lebih bersih dan bisa mengurangi biaya lebih lanjut.

Akibatnya, target mulai beroperasinya Kilang LNG Masela ini diperkirakan mundur menjadi 2030.

"Dan mempromosikan proyek sebagai proyek yang kompetitif dan bersih dengan tujuan memulai produksi pada awal 2030-an," ungkap Takayuki, seperti dikutip dalam website resmi Inpex.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif meminta agar Inpex selaku Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di proyek LNG Abadi Blok Masela bisa menuntaskan produksi pertamanya pada 2027 mendatang. Hal ini sesuai dengan Plan of Development (PoD) yang disepakati sebelumnya.

Arifin mendorong agar Inpex tetap berkomitmen agar proyek gas yang masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dapat berproduksi pada 2027 mendatang. Sekalipun perusahaan asal Jepang tersebut saat ini masih mempunyai tantangan lantaran belum ada pengganti Shell Upstream Overseas Services Limited (Shell) anak usaha dari Royal Dutch Shell di Blok Masela.

"Masalahnya kan Shell mau keluar (dari Blok Masela) tapi sekarang masih belum ada yang menggantikan. Kita push terus supaya ini bisa dieksekusi sesuai PoD. Targetnya tetap 2027," ujarnya saat ditemui di gedung Kementerian ESDM, Jumat (13/5/2022).

Seperti diketahui, proyek senilai US$ 19,8 miliar atau sekitar Rp 285 triliun (asumsi kurs Rp 14.400 per US$) ini ditargetkan memproduksi 1.600 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas atau setara 9,5 juta ton LNG per tahun (mtpa) dan gas pipa 150 MMSCFD, serta 35.000 barel minyak per hari.

Proyek ini diharapkan bisa beroperasi pada kuartal kedua 2027. Besarnya proyek ini menjadikannya sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Adapun pemegang hak partisipasi (Participating Interest/ PI) Blok Masela ini yaitu Inpex Masela Ltd sebesar 65% dan Royal Dutch Shell Plc (Shell) melalui Shell Upstream Overseas sebesar 35%. Namun, Shell sejak beberapa tahun lalu telah berencana untuk melepaskan kepemilikan hak partisipasi di proyek ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Simak Alasan Kenapa Produksi LNG Masela Berpotensi Mundur


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading