Internasional

Tolak Jutaan Vaksin, Ini Strategi Kim Jong Un Tangani Covid

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
13 May 2022 08:25
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un hadiri parade militer. (via REUTERS/KCNA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Utara (Korut) akhirnya melaporkan kasus Covid-19 pertamanya. Bahkan, laporan kasus ini juga diiringi dengan kabar kasus kematian pertama akibat virus itu.

Laporan itu sendiri ketika pemimpin tertinggi negara itu, Kim Jong-un, memimpin pertemuan Partai Buruh untuk membahas tanggapan terhadap wabah pertama virus corona, Kamis, (12/5/2022) . Dilaporkan bahwa infeksi ditemukan di wilayah Ibu Kota Pyongyang.

"Ada insiden darurat terbesar di negara ini, dengan lubang di bagian depan karantina darurat kami, yang telah disimpan dengan aman selama dua tahun tiga bulan terakhir sejak Februari 2020," kata media pemerintah KCNA dikutip The Guardian.


Laporan itu menambahkan saat ini negara itu juga mengisolasi 187.800 orang yang diduga terkena Covid-19 sejak April. Hal ini dilakukan setelah para warga itu mengalami demam misterius yang tersebar di seluruh negeri.

"Setidaknya enam orang yang menunjukan gejala demam meninggal dunia, dengan satu kasus terkonfirmasi telah terinfeksi varian Omicron," tambah media itu.

Laporan ini sendiri mengakhiri nihilnya kasus Covid-19 di negara itu. Meski diragukan para ilmuwan dunia, Pyongyang terus mengakui bahwa wilayahnya aman dari Covid dalam 2 tahun terakhir.

Bahkan, saat dunia sedang kekurangan vaksin Covid-19, negara komunis itu menolak untuk mendapatkan vaksin dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Tercatat, lembaga itu sempat ingin mengirimkan jutaan vaksin Sinovac dan Astrazeneca.

Penolakan ini memiliki alasan. Korut berdalih negaranya tidak begitu membutuhkan vaksin karena tidak memiliki kasus. Negara yang seringkali disebut DPRK dalam bahasa Inggris itu menyebut masih banyak negara lain yang lebih membutuhkan vaksin dibanding negaranya.

Meski begitu, rezim Kim Jong Un tidak tinggal diam. Korut sendiri mengambil langkah penutupan perbatasannya setelah berkembangnya kasus Covid di tetangganya, China.

Tak hanya dari luar, Korut juga sempat memberlakukan tindakan protokol yang ketat di dalam negerinya, termasuk pembatasan perjalanan domestik.

Kebijakan pengetatan ini sendiri sempat mendapatkan sorotan asing. Pasalnya, penutupan perbatasan sangat mengganggu jalur logistik dari luar negara itu. Apalagi, Korut berada dalam ancaman kelaparan yang sangat tinggi karena topan taifun pada 2020 yang merusak persediaan pangan negara itu.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Korut Umumkan Kasus Covid Pertama, Tetapkan Darurat Nasional


(luc/luc)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading