Internasional

PM Sri Lanka Mengundurkan Diri

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
09 May 2022 21:05
Sri Lankans rush to buy cooking gas following the arrival of a cooking gas at a distribution center in Colombo, Sri Lanka, Sunday, May 8, 2022. Diplomats and rights groups expressed concern Saturday after Sri Lankan President Gotabaya Rajapaksa declared a state of emergency and police used force against peaceful protesters amid the country's worst economic crisis in recent memory.(AP Photo/Eranga Jayawardena)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa, mengundurkan diri beberapa jam setelah terjadinya bentrokan dengan demonstran pro dan anti-pemerintah di ibukota komersial Kolombo, Senin (9/5/2022).

Dalam sebuah pernyataan, kantor PM mengatakan politisi veteran berusia 76 tahun itu telah mengundurkan diri.

"Beberapa saat yang lalu, Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa mengirimkan surat pengunduran dirinya kepada Presiden Gotabaya Rajapaksa," kata pernyataan itu, dikutip dari Reuters.


Dalam surat itu, PM Rajapaksa mengatakan dia berhenti untuk membantu membentuk pemerintah persatuan sementara.

"Banyak pemangku kepentingan telah menunjukkan solusi terbaik untuk krisis saat ini adalah pembentukan pemerintah semua partai sementara," kata surat itu.

"Oleh karena itu, saya telah mengajukan pengunduran diri saya agar langkah selanjutnya dapat diambil sesuai dengan Konstitusi."

Sri Lanka kini tengah berada dalam krisis ekonomi terburuk yang memicu protes oleh ribuan orang. Pengunjuk rasa di seluruh negara pulau berpenduduk 22 juta orang itu menuntut agar Presiden Gotabaya Rajapaksa dan kakak laki-lakinya, PM Mahinda Rajapaksa, untuk mundur karena salah menangani ekonomi negara.

Konfrontasi awalnya dimulai dengan ratusan pendukung partai yang berkuasa berkumpul di luar kediaman resmi PM sebelum berbaris ke tempat protes anti-pemerintah di luar kantor kepresidenan.

Polisi telah membentuk barisan sebelumnya di jalan utama menuju lokasi tetapi tidak banyak berbuat untuk menghentikan pengunjuk rasa pro-pemerintah untuk maju, menurut seorang saksi mata.

Pendukung pro-pemerintah, beberapa dipersenjatai dengan jeruji besi, menyerang demonstran anti-pemerintah di desa tenda "Gota Go Gama" yang muncul bulan lalu dan menjadi titik fokus protes nasional.

Polisi menggunakan peluru gas air mata dan meriam air untuk membubarkan konfrontasi, bentrokan besar pertama antara pendukung pro-dan anti-pemerintah sejak protes dimulai pada akhir Maret.

Sedikitnya sembilan orang dibawa ke Rumah Sakit Nasional Kolombo untuk perawatan yang berkaitan dengan cedera atau menghirup gas air mata, kata seorang pejabat rumah sakit, yang menolak disebutkan namanya.

Dipukul keras oleh pandemi, kenaikan harga minyak dan pemotongan pajak, Sri Lanka hanya memiliki US$ 50 juta cadangan asing yang dapat digunakan, menurut Menteri Keuangan Ali Sabry pekan lalu.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Krisis Makin Parah, Sri Lanka Umumkan Status Darurat


(tfa/tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading