CNBC Insight

Sayembara Presiden: Siapa Bisa Turunkan Harga, Jadi Menteri!

News - Petrik, CNBC Indonesia
19 April 2022 15:35
Cover Insight, Sembako

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dalam beberapa bulan terakhir ini mengingatkan kejadian masa lalu yang pernah terjadi saat ekonomi Indonesia berada di masa-masa sulit.

Setelah G30S 1965 perekonomian Indonesia menjadi lebih buruk lagi daripada tahun-tahun sebelumnya. Inflasi Indonesia di bulan Desember 1965 sudah mencapai 650%. Pada Januari 1966, harga-harga melambung tinggi, harga kebutuhan pokok juga tidak ketinggalan naiknya.

"Ketegangan mencapai puncaknya dengan ditetapkannya kenaikan harga minyak dan bahan bakar pada tanggal 3 Januari 1966, yang akibatnya terasa oleh seluruh lapisan masyarakat," tulis Nugroho Susanto dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid 6 (1984:405). Di hari-hari kenaikan harga itu, setelah pada 15 Januari 1966 mahasiswa dari sekitar Jakarta-Bandung-Bogor berdemonstrasi depan istana, dan Bung Karno selaku presiden kala itu sempat pidato.


"Di Indonesia harga tidak mungkin turun. Di sini saya mengundang semua orang Indonesia, siapa saja yang sanggup menurunkan harga-harga dalam tempo tiga bulan, akan saya angkat jadi menteri. Tapi, kalau sudah lewat waktu tiga bulan itu dan ternyata tidak sanggup, maka saya akan penggal batang lehernya," kata Bung Karno kala itu.

Pidato itu disiarkan berulang-ulang di Radio Republik Indonesia (RRI) dan jika malam juga tersiar di Televisi Republik Indonesia (TVRI). Pidato itu sampai juga ke telinga seorang pengacara yang sudah lama jadi wartawan bernama Hadely Hasibuan SH, yang mana si pendengar itu merasakan betapa frustrasinya Bung Karno dengan keadaan Indonesia saat itu. 

Maka Hadely Hasibuan pun menulis sebuah surat pendek kepada Presiden: Saya ingin menolong Bung Karno. Saya punya konsep untuk menurunkan harga dalam waktu 3 bulan. Dan saya bersedia ditembak mati, bila pelaksanaan konsep itu gagal dalam tempo 3 bulan. Sekali lagi maksud saya untuk menolong Bung Karno. Hidup Bung Karno.

Surat itu dikirimkan langsung oleh Hadely Hasibuan ke istana dan beberapa hari kemudian dirinya ditelepon bahwa pada 2 Februari dia harus datang ke Sekretariat Negara untuk bertemu Wakil Perdana Menteri Johannes Leimena. Selama seminggu, Hadely pun menyusun konsep ekonominya dan dia tak lupa berdiskusi dengan Bung Hatta. Hatta tak meremehkannya, meski Hadely Hasibuan tak banyak mengerti soal ekonomi.

Di hari bertemu Leimana, Hadely Hasibuan berdebat dengan Leimena. Leimena menyebut Hadely Hasibuan gila karena konsep kasarnya dalam penurunan harga berseberangan dengan politik Sukarno. Leimena menyuruh Hadely Hasibuan untuk minta maaf kepada Presiden, karena idenya membuat Bung Karno marah. Hadely Hasibuan berkeras ingin menghadap Presiden dan hal itu tak bisa dipenuhi.

Rupanya dalam konsepnya Hadely Hasibuan menganjurkan agar Bung Karno sebagai Presiden agar: menghentikan konfrontasi dengan Malaysia; Indonesia masuk kembali ke PBB; Indonesia segera membuat undang-undang baru tentang penanaman modal asing; mengurangi jumlah menteri yang jumlahnya 100 menjadi 17 menteri saja; dan Hadely Hasibuan juga meminta agar Sumitro Djojohadikusumo segera dipanggil pulang untuk membantu pemerintah. Tak lupa, Hadely Hasibuan juga menganjurkan pembubaran PKI.

Setelah perdebatan dengan Leimana, Hadely Hasibuan yang dalam kondisi kesal kemudian bertemu beberapa wartawan. Dimana Hadely Hasibuan banyak bercerita kepada para wartawan itu. Besoknya, Hadely Hasibuan jadi salebritas. Ada koran yang menulis tentang pertemuan Leimena dan dengan dirinya, ada yang menulis tentang pemikiran ekonomi Hadely Hasibuan. Tak semuanya menulis sesuai konsep ekonomi Hadely Hasibuan. Ada yang dengan salah menulis: konsep Hasibuan akan mengakhiri dominasi China dalam bidang ekonomi Indonesia.

"Demi Allah, dalam konsep yang saya serahkan kepada Pak Leimena, tidak satu kalimat pun menyinggung persoalan dominasi China di bidang ekonomi Indonesia," aku Hadely Hasibuan dalam Pengalamanku Sebagai Calon Menteri Penurunan Harga (1985:41). Tak hanya koran Indonesia, koran Australia, Amerika, Eropa dan Jepang juga menyebut nama Hadely Hasibuan.

Hadely Hasibuan pun jadi tersohor dan mendapat julukan, yang diakuinya tidak disukainya: Abu Nawas. Hadely Hasibuan tidak menjadi cemoohoan mahasiswa yang ikut melengserkan Sukarno. Bahkan nama marganya, dipakai untuk menyebutnya dalam sebuah lagu:

 

Dalam Berita Yudha tersebut kisah,

Hasibuan namanya menghadap raja,

Tiga bulan lamanya turunkan harga,

Jika tidak berhasil penggal kepala,

Hasibuan SH, Hasibuan SH.

Hadely Hasibuan juga mendapat undangan berceramah di Universitas Padjadjaran. Namun ceramahnya tidak begitu sukses karena lelah. Meski begitu, Hadely Hasibuan dijadikan bahan perlawanan golongan anti-Sukarno yang ingin segera melengserkan Bung Karno sebagai presiden.

Setidaknya, keberanian Hadely Hasibuan mengajukan diri menjadi Menteri Penurunan Harga kepada Presiden, dianggap golongan anti-Sukarno sebagai wujud perlawanan juga. Hadely Hasibuan sendiri terlibat dalam aksi melawan Sukarno dengan menjadi ketua Umum dari Kesatuan Aksi Pengusaha Nasional Indonesia (KAPNI).

Hadely Hasibuan sendiri tak pernah benar-benar dijadikan Menteri Penurunan Harga, baik oleh pemerintahan Sukarno maupun pemerintahan Soeharto, tapi idenya undang-undang penanaman modal asing dan lain-lain yang dulu dianjurkan kepada Bung Karno, telah dilaksanakan Soeharto sejak 1968.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sabar Bunda! Sembako Naik, Daging Ayam Tertinggi Sejak 2018


(pmt/pmt)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading