CNBC Insight

Landlord 'Planet Bekasi', Khouw Tuan Tanah Tajir dari Bintara

News - Petrik, CNBC Indonesia
12 April 2022 14:05
Cover Insight, Tuan Tanah

Jakarta, CNBC Indonesia - Bekasi Barat hari ini adalah sebuah kecamatan di Kotamadya Bekasi yang meliputi daerah Bintara, Bintara Jaya, Jakasampurna, Kota Baru dan Kranji.

Kini kecamatan Bekasi Barat ini ini merupakan daerah yang sangat ramai di Kota Bekasi. Di masa lalu bisa jadi apa yang disebut Bekasi Barat agak berbeda dengan Bekasi Barat hari ini. Di masa lalu Bekasi Barat bisa jadi merujuk pada seluruh bagian barat dari Bekasi. 

Bekasi Barat, disebut dalam Regerings Almanak van Nederlandsch Indië voor het Jaar 1867 Volume 40 (1867:) adalah daerah penghasil padi, kacang dan gula. Di tahun 1867, salah satu pemilik tanah itu adalah Khouw Tjeng Tjoan (1808-1880). Dia mengusainya bersama koleganya. Selain memiliki tanah di Bekasi Barat itu, Khouw Tjeng Tjoan juga pemilik tanah di Rawa Domba, Sungai Buaya, Sungai Bintara, Tanah Limapuluh, Kresek, Balaraja, Pekojangan, Kampung Melayu, Salapanjang Barat.


Khouw Tjeng Tjoan sendiri adalah seorang yang diberi pangkat tituler Letnan Tionghoa sejak 1856 oleh pemerintah kolonial. Pada bulan Oktober 1880 Koran De locomotief (19-10-1880) memberitakan Letnan tituler Khouw Tjeng Tjoan Tionghoa telah meninggal di Tangkie. Dia adalah orang Tionghoa terkaya di Batavia dan meninggalkan warisan yang besar. Tanki di masa sekarang adalah sebuah kelurahan di kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.

Khouw Tjeng Tjoan adalah anak dari Khouw Tian Sek. Menurut Alwi Shahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2001:) Khouw Tian Sek tergolong generasi pertama yang tiba di Hindia Belanda tanpa membawa apa-apa dan memulai perjuangan keluarga kaya itu. Khouw Tian Sek mula-mula jadi pedagang kecil-kecilan seperti kebanyakan migran Tionghoa lainnya. Namun, kegigihannya membuatnya kaya raya.

Setelah kaya, dia mengembangkan bisnisnya ke bisnis tebu. Keluarganya lalu memiliki ribuan hektar kebun tebu di Tangerang dan Bekasi. Kekayaan dan pengaruhnya membuatnya dapat pangkat letnan tituler juga. Seperti para tuan tanah dan saudagar di zaman itu, para letnan tituler saja biasanya memiliki banyak selir dan anak. Apalagi juragan dan tuan tanah yang punya pangkat kapten dan mayor.

Khouw Tian Sek tutup usia pada 1843. Ketiga anaknya mewarisi kekayaannya. Ketiga anaknya Khouw Tjeng Tjoan, Khouw Tjeng Kee dan Khouw Tjeng Po juga menjadi letnan tituler.

Kekayaan yang berlimpah membuat keluarga Khouw membangun banyak bangunan megah di sekitar Jalan Gajah Mada Jakarta. Rumah mereka berada di Jalan Gajah Mada nomor 18, 168 dan 204. Tiap rumah besarnya di sana punya pangkalan perahu sendiri di aliran Sungai Ciliwung, hingga memudahkan transportasi mereka.

Keluarga Khouw adalah pemilik tanah di Tambun. Khouw Tian Sek sendiri digelari sebagai Khouw van Tamboen. Rumah besar mereka di Tamboen kini menjadi gedung juang di dekat stasiun Tambun. Beberapa anggota keluarganya menjadi tuan tanah di beberapa daerah di sekitar Betawi (Batavia atau Jakarta). Hampir seabad setelah kematian Khouw Tian Sek, pada 1941, seperti diberitakan Bataviaasch Nieuwsblad (29-09-1941), cucu-cucu Khouw Tian Sek masih menguasai daerah Tambun yang menghasilkan padi dan karet. Namun, kini sudah berubah jadi kenangan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tanah Ibu Kota Baru 'Terbang': Sampai Jenderal Borong Kavling


(pmt/pmt)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading