Economic Outlook 2022

Tekan Subsidi LPG, RI Butuh 10 Pabrik Gasifikasi Batu Bara

News - Lalu Rahadian, CNBC Indonesia
22 March 2022 11:38
Menteri BUMN Erick Thohir (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia tengah menggalakan pengembangan gasifikasi batu bara atau dalam hal ini Dymetil Ether (DME) sebagai pengganti ketergantungan Indonesia atas penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG), yang saat ini bahan baku gas untuk LPG masih dilakukan secara impor.

Menteri BUMN, Erick Thohir menyebutkan, Indonesia kerap melakukan impor LPG selain itu mekanisme penggunaan LPG juga dilakukan melalui subsidi yang nilainya tiap tahun mencapai Rp 70 triliunan.

Oleh karena itu, kata Erick, sebagai solusi menghilangkan subsidi LPG tersebut adalah dengan mengembangkan gasifikasi batu bara menjadi green energy seperti gas untuk bisa menjadi DME.


"satu produk bisa menghemat Rp 7 triliun. Itu artinya kita perlu 8-10 pabrik gasifikasi batu bara untuk DME yang tidak hanya BUMN kita harapkan beberapa prusahaan batu bara swasta bisa switch ke DME," ungkap Erick kepada CNBC Indonesia Economic Outlook 2022, Selasa (22/3/2022).

Seperti yang diketahui, sebelumnya pemerintah meresmikan pengembangan gasifikasi batu bara yang dikembangkan oleh PT Pertamina (Persero), PT Bukit Asam Tbk dan Air Products & Chemicals Inc. (APCI).

Proyek gasifikasi batu bara dengan nilai investasi jumbo atau senilai Rp 30-an triliunan ini diklaim bisa memberikan penghematan cadangan devisa hingga mencapai Rp 9,7 triliun per tahun dan mampu menyerap 10 ribu tenaga kerja.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Kiamat' Kontainer Makin Gawat, Korsel Minta Bantuan ke RI


(pgr/pgr)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading