Susah Punya Rumah Jabodetabek, Anak Zaman Now Makin 'Nangis'

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
21 March 2022 19:28
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Sinyal kenaikan harga rumah dan bunga KPR di tahun 2022 semakin kuat. Bahkan petinggi perbankan sudah mewanti-wanti soal potensi kenaikan suku bunga KPR tahun ini.

Kondisi itu bakal berdampak pada kenaikan harga rumah. Dengan demikian, generasi Z yang banyak membutuhkan hunian bakal berpotensi semakin kesulitan untuk bisa membeli rumah.

"Harga rumah akan terus naik, even dalam kondisi krisis seperti kemarin, ada aja yang naikkan harga," kata Director Research Consultancy Savills Indonesia, Anton Sitorus kepada CNBC Indonesia, Senin (21/3/22).


Karenanya semakin lama menunggu untuk membeli rumah, maka harganya semakin tinggi atau nggak terjangkau. Apalagi saat ini geliat ekonomi makin membaik, pemerintah juga bakal merubah pandemi menjadi endemi.

"Kecenderungannya harga rumah meningkat lebih besar dari tahun-tahun kemarin," ujar Anton.

"Overall untuk perumahan di Jabodetabek, kisaran 5-10% rata-rata kenaikan harga yang terjadi," lanjutnya

Ia tidak menampik bahwa kenaikan harga juga tidak lepas akibat adanya kenaikan harga material. Ketika komponen material pendukung naik, maka secara otomatis harga akhir yang bakal diterima konsumen juga semakin mahal.

"Jadi tahun ini ada kecenderungan harga muai naik, di beberapa proyek-proyek besar mulai ada kenaikan, BSD, Alam Sutera, Summarecon, di PIK. Apalagi di tahun depan, ketika ekonomi makin membaik (makin mahal)," sebutnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bandingkan Rumah di Jakarta Sampai Bali, Mana Lebih Mahal?


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading