Mohon Maaf! Harga Laptop Makin Mahal, Terbang Bisa 30%

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
09 March 2022 17:55
Pengunjung melihat barang elektronik di Toko Hartono Elektronik, Jakarta, Selasa (24/4). Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam beberapa pekan terakhir ini berdampak pada kenaikan harga jual produk elektronik. Pelemahan nilai rupiah berdampak pada harga elektronik. Sebab, beberapa komponen elektronik, khususnya komputer, merupakan barang impor, seperti dari Jepang. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga laptop kian melambung dalam dua tahun terakhir selama pandemi hingga saat ini. Hal ini disebabkan krisis pasokan chipset semikonduktor di berbagai belahan dunia.

Jika dibandingkan harga laptop untuk kelas menengah, pada banyak laman official store penjual laptop di e-commerce, sudah jauh lebih tinggi dari beberapa tahun lalu. Seperti yang memiliki spesifikasi Intel Celeron atau sekelasnya sudah mencapai Rp 5 jutaan.

Sedangkan untuk mendapatkan prosesor yang lebih tinggi seperti Intel Pentium i3 atau i5 harus merogoh kocek lebih dalam minimal Rp 7 jutaan. Tidak jarang juga tertulis stok habis. Padahal sebelum ada kenaikan harga, laptop dengan spesifikasi sejenis hanya Rp 3-4 jutaan


Head of Public Relations Asus Indonesia System BG, Muhammad Firman, melihat secara umum harga laptop memang melonjak selama dua - tiga tahun terakhir, yang disebabkan pasokan chipset yang terbatas.

"Masalah utama dari kenaikan harga yang signifikan ini adalah karena pasokan chipset yang sangat terbatas. Sementara demand sangat tinggi dibanding 2 - 3 tahun lalu, terutama sebelum pandemi," kata Firman kepada CNBC Indonesia, Rabu (9/3).

Firman menjelaskan kelangkaan Chipset dan semikonduktor berefek samping pada pasokan perangkat elektronik sehingga merembet ke banyak hal. Sehingga produksi perangkat teknologi yang memakai chip semikonduktor pun terhambat.

Karena pasokan yang terhambat, imbas akhir terasa juga di konsumen akhir. Menurut Firman produsen terpaksa menaikkan harga dari pabrik untuk proses produksi berikutnya.

"Harga terpaksa dinaikkan dari pabrik karena kalau tidak dinaikkan maka produsen tidak bisa membeli lagi komponen semikonduktor untuk proses produksi berikutnya. Dimana kenaikan (harga laptop) saat ini cukup signifikan sampai 30%," jelas Firman.

Namun kelangkaan ini tidak hanya dialami oleh produsen laptop. Menurut Firman, perangkat elektronik lain yang membutuhkan chipset seperti smartphone sampai mobil juga mengalami kendala produksi.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Elektronik Oki Widjaja, juga bicara mengenai kelangkaan chip berdampak pada industri elektronik, bahkan diperparah persoalan logistik dan gangguan rantai pasok.

"Dunia shortage dari IC, bentuknya seperti CPU komputer dan segala macem. Semua elektronik butuh semiconductor. Pabrik yang produksi sekarang ini gak cukup di Amerika dan Taiwan seperti Intel dan EMMC, mereka sedang membangun pabrik baru. Tapi ini butuh waktu lama atau dua tahun produksi," katanya beberapa waktu lalu.

Menurut Oki, kelangkaan saat ini merupakan kelangkaan paling parah sepanjang sejarah industri elektronik. "Selain itu ada masalah metal dan biji plastik yang shortage, ditambah dengan masalah supply chain hal ini yang menyebabkan supply chain kita terhambat," kata Oki.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Features
    spinner loading