Ekonom Asing Ini Yakin Seorang Jokowi Bisa Damaikan AS-China

News - Eqqi Syahputra, CNBC Indonesia
09 February 2022 13:34
FILE - Xi Jinping, China's president and Communist Party chief, left, eats a Hawaiian macadamia chocolate gifted by Governor of Hawaii, Neil Abercrombie, not seen, during a governors meeting held inside the Walt Disney Concert Hall as Vice President Joe Biden, right, looks on in Los Angeles., Feb. 17, 2012. As President Joe Biden and Xi Jinping prepare to hold their first summit on Monday, Nov. 15, the increasingly fractured U.S.-China relationship has demonstrated that the ability to connect on a personal level has its limits. Biden nonetheless believes there is value in a face-to-face meeting, even a virtual one like the two leaders will hold Monday evening. (AP Photo/Damian Dovarganes, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jeffrey E Sachs, Ekonom Amerika dan Direktur dari Earth Institute di Colombia University berharap Indonesia bisa mendamaikan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China dan bahkan Rusia. Peran ini dapat dijalankan seiring posisi Indonesia sebagai presidensi G20 pada 2022.

"Indonesia berteman dengan semua pihak dan katakanlah China, AS, Rusia bilang ke mereka berbaik-baiklah dan tidak saling bertikai," ungkapnya dalam acara Mandiri Investment Forum, Rabu (9/2/2022)


Menurutnya, pada abad sekarang tidak perlu lagi ada perang dingin antar negara. Dunia membutuhkan kerjasama yang baik dalam menghadapi banyak hal. Antara lain pandemi covid-19 yang belum juga berakhir hingga perubahan iklim.

Negara maju memiliki peran besar dalam pengambilan keputusan terhadap kondisi global. Menurut Sachs apabila tidak ada kerjasama yang baik maka negara berkembang dan miskin akan terkena imbasnya.

"Indonesia harus membantu demi negara berkembang," jelasnya.

Apalagi sistem keuangan Internasional sangat tidak berpihak. Negara maju dapat mengambil semua dana dan investasi, berbeda dengan negara berkembang atau miskin yang harus memberikan tawaran imbal hasil yang sangat tinggi.

Sachs menyampaikan ada 82 negara berpendapatan menengah di dunia di mana 79 di antaranya tidak memiliki peringkat investasi yang memadai. Sehingga negara tersebut dipaksa berkorban lebih besar.

"Negara kaya meminjam 1-2% dan negara miskin membayar 8-10%. Ini tidak masuk akal," tegasnya.

Hal-hal tersebut bisa menjadi pembicaraan dalam pertemuan G20 mendatang. Di samping juga persoalan perubahan iklim. Pemanasan global terjadi karena negara maju yang memompa ekonomi puluhan tahun lamanya.

Sekarang masalah tersebut dibebankan kepada negara berkembang dan miskin. Padahal harus dipahami bahwa hal itu adalah barang mahal di tengah negara yang kini masih berkutat dengan kemiskinan dan pengangguran.

"Mereka bahkan tidak mau mengeluarkan kewajiban US$ 100 miliar untuk membantu negara berkembang menyelesaikan persoalan tersebut," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ramai Negara Mulai Antre di Pintu Keluar Pandemi, Ada RI?


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading