CNBC Insight

Ini Cerita Awal Singapura Sempat Kontrol Wilayah Udara RI

News - Petrik M, CNBC Indonesia
26 January 2022 13:40
Cover Insight, FIR Singapura

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Jokowi membuat gebrakan setelah kemarin Selasa (25/1) secara resmi Indonesia penyesuaian pengelolaan informasi wilayah udara atau Flight Information Region (FIR) dari Singapura.

Pengambilalihan kembali kendali tersebut terwujud setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsie Loong menyaksikan penandatanganan perjanjian penyesuaian Flight Information Region (FIR).

Penandatanganan perjanjian tersebut dilakukan oleh Menteri Perhubungan Indonesia Budi Karya Sumadi dan Menteri Transportasi Singapura S. Israwan di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Selasa (25/1/2022).


Hal ini mengubah banyak hal nantinya. Dulu, pesawat Indonesia termasuk armada militer harus minta izin kepada otoritas penerbangan Singapura jika hendak terbang dari Tanjungpinang ke Pekanbaru dan juga ke Pulau Natuna atau Batam dan sekitarnya.

Indonesia mengambil alih pengelolaan FIR dari Singapura, dan negara pulau itu sudah setuju pengalihan FIR tersebut ke Indonesia.

"Indonesia telah punya kapasitas, punya kemampuan dan mampu mengelola ruang udara di seluruh Indonesia. Akan itu tidak ada alasan untuk mencapai target FIR ini untuk diambil secara secepatnya," kata Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves Basilio Dias Araujo, dalam konferensi pers, Rabu (17/2/2021).

Pada masa lalu Indonesia dianggap belum mampu mengelola FIR sehingga harus diserahkan ke Singapura.

Bagaimana cerita awalnya? Kenapa pada masa lalu pesawat Indonesia harus izin ke Singapura untuk terbang di sekitar Riau padahal di teritori Indonesia?

Berdasar pertemuan asosiasi penerbangan sipil internasional alias International Civil Aviation Organization (ICAO) pada Maret 1946 di Dublin, Irlandia, ditentukan wilayah Informasi Penerbangan Kepulauan Riau berada di bawah kendali otoritas Singapura.

Dengan perjanjian itu, Singapura menguasai sekitar 100 mil laut (1.825 kilometer) wilayah udara Indonesia. Wilayah Kepulauan Riau, Tanjung Pinang, Natuna, Sarawak dan Semenanjung Malaya, termasuk FIR Singapura waktu itu.

Ketika pertemuan ICAO Maret 1946 di Dublin itu, Singapura masih berada di bawah otoritas Inggris. Singapura baru merdeka dari Inggris pada 9 Agustus 1965. Indonesia pada waktu memang sudah merdeka, namun Republik Indonesia belum punya perangkat yang memadai untuk mengurusi FIR tersebut.

Indonesia kala itu sedang sibuk menghadapi NICA Belanda. Setelah 1946, Inggris kerap berada di pihak Belanda dalam konflik Indonesia-Belanda 1945-1949. Setelah Indonesia bebas dari gangguan tentara Belanda setelah 1950, FIR untuk daerah kepulauan Riau masih tetap di bawah otoritas Inggris di Singapura.

Setelah Singapura merdeka dari Inggris, FIR untuk kepulauan Riau masih tetap di tangan Singapura. Beberapa presiden Indonesia, bahkan yang dianggap kuat, tak satupun yang mampu merebut pengelolaan informasi wilayah udara atau Flight Information Region (FIR) dari Singapura.

Penerbangan dari dan ke Kepulauan Riau dianggap mahal karena Singapura menguasai FIR. Beberapa tahun terakhir, Presiden Jokowi dan beberapa mantan pejabat militer telah menyerukan atau menyatakan keinginan agar FIR atas Kepulauan Riau dikelola Indonesia.

Indonesia telah berjuang untuk memenuhi persyaratan ICAO untuk menjadi pengelola FIR atas daerah udara Kepulauan Riau. Hingga akhirnya Indonesia bisa leluasa terbang di atas wilayah udaranya sendiri.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Covid Singapura Rekor Baru Lagi, 1453 Kasus Lokal, 3 Kematian


(pmt/pmt)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading