CNBC Insight

Sejarah Pindad: Pabrik BUMN Senjata RI Dulu Andalan Belanda!

News - Petrik M, CNBC Indonesia
24 January 2022 14:35
Pejabat Hindia Belanda Berpose Bersama Karyawan ACW di Lokasi PT. Pindad Saat Ini (Tangkapan Layar via website Pindad)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam waktu dekat, Holding perusahaan BUMN pertahanan akan diluncurkan. Harapannya untuk mendukung produksi alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) nasional agar bisa mandiri.

Holding BUMN Pertahanan bernama Defence Industry Indonesia (Defend ID), yang terdiri dari PT Len Industri (Persero) sebagai induk holding. Anggota holdingnya antara lain: PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, serta PT Dahana dan PT Pindad.

Salah satu yang jadi perhatian adalah PT Pindad, yang merupakan singkatan dari Perindustrian Angkatan Darat. Pindad sudah ada jauh sebelum lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan Angkatan Darat di dalamnya. Sejarah industri senjata di Indonesia setidaknya mulai pada 1808, ketika Napoleon Bonaparte jadi musuh bersama kebanyakan imperialis Eropa, termasuk Belanda yang kala itu dikuasai Prancis.


"Gubernur Jenderal Deandels menjadikan Surabaya sebagai tempat gudang persenjataan, yang belakangan berkembang menjadi industri penting," tulis Haword Dick dalam Surabaya, City of Work: A Socioeconomic History, 1900-2000 (2003).

Robert E. Walker dalam Cartridges and Firearm Identification (2012) menyebut gudang senjata itu berfungsi sebagai bengkel perbaikan alat-alat militer. Sejak 1 Januari 1851 bengkel itu dinamakan Artillerie Constructie Winkel alias bengkel konstruksi artileri.

Pihak Angkatan Laut kolonial juga membangun bengkel amunisi dan bahan peledak didirikan pada 1850 di Surabaya dengan nama Pyrotechnische Werkplaats. Instalasi ini disatukan ke dalam bendera Artillerie Constructie Winkel. Di Ngawi kemudian dibangun pabrik mesiu dan di Semarang pabrik proyektil dan laboratorium kimia. Semuanya kemudian dipusatkan di Bandung dalam Artillerie Inrichtingen

Pabrik senjata era Hindia Belanda membuat senjata untuk pasukan darat KNIL Belanda yang banyak terlibat pertempuran melawan orang Indonesia yang melawan tentara Belanda. Produksinya tidak begitu besar karena perlawanan bersenjata dari orang Indonesia makin sepi pada abad XX.

Perang Dunia II, membuat pabrik-pabrik senjata di Hindia Belanda itu meningkatkan produksinya. Kek Beng Kwee dalam Doea Poeloe Lima Tahon Sebagi Wartawan: 1922-1947 (1948) menyebut jumlah pegawai meningkat setelah Negeri Belanda diserang tentara NAZI Jerman pada 10 Mei 1940.

Pegawai Pyrotechnische Werkplaats naik dari 2.300 orang 25.000 orang. Pegawai Artillerie Constructie Winkel naik dari 750 menjadi 5.000 orang. Namun, menaikkan kapasitas produksi itu tak diikuti menangnya tentara Belanda melawan tentara Jepang. Saat itu pabrik senjata ini sudah dipindahkan ke Bandung.

Pada 9 Oktober 1945, pabrik senjata ini direbut para pemuda Republik Indonesia dan dinamai Pabrik Senjata Kiaracondong, Bandung. Setelah Tentara Belanda merebut Bandung, pabrik itu dinamai Leger Produktie Bedrijven alias Perusahaan Produksi Angkatan Darat.

Di luar daerah yang diduduki Belanda, pihak Republik Indonesia, membangun pabrik senjata sejak 1946 di Medari dan Demak Ijo, keduanya di Yogyakarta. Sejak 1950, pabrik senjata di Bandung jadi Republik Indonesia.

Mulanya bernama Pabrik Senjata dan Mesiu pada 1950. Sejak 1958 bernama Pabrik Alat Peralatan Angkatan Darat dan sejak 1962 Perindustrian TNI Angkatan Darat (Pindad). Setelah pada 1972 bernama Komando Perindustrian TNI Angkatan Darat pada 1972, pada 1976 nama Pindad kembali dipakai.

Pada 1983, pabrik senjata Pindad menjadi perusahaan negara dan Angkatan Darat. Makin hari produksinya terus berkembang. Pindad dikenal sebagai produsen senjata untuk TNI seperti senapan SS. Pindad juga membuat kendaraan lapis baja untuk TNI.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Senapan Mesin Hingga Sniper, Senjata Canggih Buatan RI


(pmt/pmt)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading