Kasus Covid Tinggi Lagi, Mal Jakarta Terancam Kian Sepi

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
24 January 2022 09:30
Sejumlah warga melakukan aktivitas didalam Lippo Mal Puri, Kembangan, Jakarta, Selasa (21/9/2021). Pemerintah melakukan penyesuaian aktivitas masyarakat dalam ketentuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) terbaru, yang berlaku dua pekan sampai 4 Oktober 2021. Salah satunya yaitu uji coba pembukaan pusat perbelanjaan/ mal bagi anak-anak di bawah 12 tahun. Uji coba pembukaan pusat perbelanjaan/Mall bagi anak-anak di bawah usia kurang dari 12 tahun dengan pengawasan dan pendampingan orang tua, Foto: Ilustrasi Mall (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Meningkatnya kasus Covid-19 akibat varian Omicron di Indonesia terasa nyata. Terbaru, pada 23 Januari 2022, penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 2.925, dengan Jakarta mendominasi sebanyak 1.739 kasus. Akibatnya dunia usaha terancam, salah satunya membuat sebagian pusat perbelanjaan kembali menjadi sepi. Kondisi ini kian memperpanjang fenomena mal sepi sejak awal masa pandemi Covid-19.

Pengunjung yang terpantau sepi sejalan dengan banyaknya gerai toko yang tutup. memang banyak gerai yang dijual hingga dikontrakkan ke penyewa yang berminat. Namun, itu bukan perkara mudah karena banyak pelaku usaha yang menahan dana untuk tidak berinvestasi di pusat perbelanjaan.

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Budihardjo Iduansjah mengungkapkan, banyaknya tenant atau penyewa menutup gerai disebabkan ekosistem ekonomi di mal itu sudah tidak lagi bergairah.


"Tenant sewa mal bukan karena lokasi, tapi nyewanya traffic, tugas mal itu mendatangkan traffic," katanya kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Sayangnya, saat mobilitas manusia di mal sepi, maka penyewa akan sulit bertahan. Di sisi lain, untuk yang sudah bangkrut, akan kesulitan bangkit kembali.

"Tenant buka lagi kalau kondisi keuangan belum bagus ya susah. Kita nggak mau tutup. Kalau mal sepi, sewa nggak turun, makin sepi lagi malnya. Ini perlu kerja sama, tenant dihidupkan dulu, baru mal bisa menagih sewa," jelasnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pusat Perbelanjaan Indonesia Alphonzus Widjaja menilai banyak faktor yang memengaruhi tingkat kunjungan ke mal.

"Sebagai contoh, masih banyaknya karyawan yang WFH (work from home) akan memengaruhi tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan yang berada di sekitar area perkantoran," katanya

Di sisi lain, persaingan dengan mal-mal baru yang muncul menjadi faktor lain. Keberadaan mal-mal baru yang lebih modern tentu jadi daya saing antar pengelola untuk terus berinovasi.

Suasana mal saat PPKM Level 2 (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)Foto: Suasana mal saat PPKM Level 2 (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Suasana mal saat PPKM Level 2 (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Sebelumnya dalam riset Colliers Indonesia, tingkat okupansi ruang mal yang disewa peritel menurun drastis atau mencapai 9% pada 2021, jika dibandingkan sebelum pandemi pada 2019 lalu untuk wilayah pusat bisnis (CBD) DKI Jakarta. Sementara jika dibandingkan pada 2020 lalu, keterisian mal turun 5% pada 2021. Sehingga okupansi saat ini bertengger pada tingkat 70%.

Lalu pada wilayah pinggiran Jakarta, tercatat okupansi keterisian tenant pada 2021 turun 5% dari tahun sebelumnya, lalu turun 9% dibanding masa sebelum pandemi. Atau berada pada tingkatan 70%.

Jika dibandingkan tahun 2016 tingkat keterisian mal berada pada level di atas 85% mendekati penuh secara rata-rata, meski terus menurun dari tahun ke tahun, pada 2020 di bawah 80% dan 2021 mencapai 70%.

"Jumlah toko yang dibuka relatif rendah di mal yang baru beroperasi, sekali lagi karena dampak dari pandemi juga menurunkan rata-rata tingkat hunian baik di Jakarta maupun di sekitarnya," tulis riset itu, dalam keterangan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waspada Gelombang Ketiga, Pengusaha Mal Masih 'Pede'


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading