Kala Mbak Tutut Main Jalan Tol dan Ngutang Rp 1,07 Triliun

News - Petrik Matanasi, CNBC Indonesia
21 January 2022 12:30
Cover Insight, Tutut Soeharto

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Tugas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) memanggil Siti Hardiyanti Indra Rukmana alias Tutut Soeharto alias Mbak Tutut terkait kewajiban utangnya. Tutut mendapatkan dana BLBI melalui PT Citra Mataram Satriamarga, PT Marga Nurindo Bhakti, PT Citra Bhakti Margatama Persada.

Utang Mbak Tutut kepada negara berasal dari PT Citra Mataram Satriamarga sebesar Rp 191,61 miliar. Utang ini belum pernah diangsur sama sekali.

Utangnya dari PT Marga Nurindo Bhakti senilai Rp 471,47 miliar hanya pernah diangsur sekitar Rp 1,09 miliar. Utangnya dari PT Citra Bhakti Margatama Persada sebesar Rp 14,79 miliar dan US$ 6,51 juta.


Total utangnya mencapai Rp 1,07 triliun. Perusahaan-perusahaan Mbak Tutut itu terkait dengan jalan tol. Kiprah di bisnis jalan tol tak hanya terkait tiga perusahaan tadi.

"Anak-anak Soeharto menikmati transaksi istimewa dalam jalan tol, impor komoditas strategis, eksplorasi sumber daya alam," tulis MC Ricklef dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008:669). Jalan tol di Jakarta adalah sumber uang yang cukup lancar dari masa ke masa dan Mbak Tutut punya itu. Sejarah Mbak Tutut bermain di bisnis jalan tol terjadi sudah sangat lama.

Mbak Tutut ikut serta dalam bisnis jalan tol sejak muda. Dia terjun ke bisnis ini bukan tanpa halangan. Ketika Mbak Tutut berniat menjadi pemborong proyek jalan tol Cawang-Priok-Cengkareng dia punya cobaannya sendiri.

Pertama, Mbak Tutut bukan berlatar insinyur ahli konstruksi atau kontraktor dengan jam terbang yang panjang. Kedua, beberapa pembantu Presiden Soeharto, bapak daripada Mbak Tutut, sempat gusar akan rencana bisnis Tutut.

Itulah kenapa Menteri Pekerjaan Umum, Radinal Mochtar, kemudian menghadap presiden daripada Soeharto. Proyek jalan tol di mata Menteri Radinal Mochtar bukan proyek main-main untuk orang yang belum lama bergelut di bidang konstruksi dan Radinal berusaha membuat pemerintahan Soeharto tidak salah langkah.

"Itu pekerjaan sulit, dan Mbak Tutut belum berpengalaman mengerjakan proyek besar demikian," kata Radinal kepada Presiden Soeharto. Namun Soeharto tetap menunjukkan kebijaksanaannya sebagai bapak yang baik setelah mendengar penjelasan Radinal Mochtar itu.

"Kalau dia tidak tahu, saudara ajari anak itu," jawaban Soeharto itu ibarat perintah seorang kepala sekolah kepada guru yang mengajar anak-anak di kelas. Radinal pun harus membimbing Mbak Tutut dalam urusan jalan tol kali ini. Begitulah Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:134).

Bukan hanya Radinal Mochtar saja yang menjadi orang yang berpeluang menghadang cita-cita mulia Mbak Tutut, tapi penjaga setia Soeharto, Jenderal Benny Moerdani pun jadi penghalangnya. Jusuf Wanandi, seperti disebut Salim Said, bercerita kepada Salim Said soal rencana Tutut memberi kuliah mengenai jalan tol di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Kala itu Mbak Tutut sedang menyelesaikan jalan tol Cawang-Priok-Cengkareng. Jenderal Benny Moerdani mencegahnya.

"Kalau mau membangun jalan tol, bangun saja. Tidak usah memberi kuliah segala," kata Benny waktu itu. Benny khawatir Tutut malah didemo mahasiswa terkait proyeknya itu.

Tak semua orang tak suka Tutut. Mbak Tutut dibela pamannya, Probosutedjo.

"Tentang pembangunan jalan tol yang digelar Tutut misalnya, sempat dikritik sebagai proyek jor-joran yang tak masuk akal," aku Probosutedjo dalam Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto (2013:491). Setelah proyek tol itu selesai dan masih tegak hingga hari ini, Mbak Tutut masih dikenal sebagai pengusaha jalan tol.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tommy Soeharto 3 Kali tak Datang Ditagih Utang BLBI Rp 2,6 T


(pmt/pmt)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading