Pak Luhut, Stok Batu Bara Domestik Belum Aman, Ini Buktinya!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
11 January 2022 20:22
Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam negeri, bahkan tak mustahil bila meninggalkannya sama sekali. Hal ini tak lain demi mencapai target netral karbon pada 2060 atau lebih cepat, seperti yang dikampanyekan banyak negara di dunia. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Polemik kritisnya pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri nyatanya tidak hanya dialami PT PLN (Persero) selaku operator pembangkit listrik, namun juga dirasakan pengusaha manufaktur di dalam negeri.

Saat ini banyak pengusaha yang melepas penggunaan komoditas batu hitam ini dan beralih ke sumber energi lainnya demi tetap bisa menjalankan pabriknya. Salah satunya dirasakan langsung oleh produsen serat dan benang filamen.

"Kita matiin pembangkit karena nggak dapat batu bara, yang biasanya pakai batu bara kini nggak dapat. Kalau pun ada, itu udah mahal banget, mending pakai PLN," ungkap Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta kepada CNBC Indonesia, Selasa (11/01/2022).


Demi menjalankan aktivitas produksi pabriknya, pengusaha lebih mengutamakan pasokan listrik dari PLN. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk kembali menggunakan energi dari batu bara ini bila stok batu bara aman kembali dan harganya juga lebih murah dibandingkan harus menggunakan pasokan listrik dari PLN.

"Kalau lebih murah dibanding PLN, pasti kita nyalain lagi pembangkit, sementara ini pakai aja PLN dulu. Hampir semua pembangkit udah dimatiin," papar Redma.

Meski demikian, ada juga yang masih menggunakan batu bara sebagai sumber energi, namun jumlahnya sangat sedikit. Mereka menggunakannya untuk menghidupkan boiler.

"Di hulu masih ada yang pakai satu, tapi itu juga kecil, mungkin kalau gini terus dia bakal matiin juga. Total di kita cuma 22 anggota, yang punya pembangkit enam perusahaan, sudah matiin semua, tinggal satu jalan tapi kecil," jelasnya.

Saat ini pengusaha memang mau tidak mau meminimalisir penggunaan batu baru karena keterbatasan stok.

Seperti diketahui, pada 31 Desember 2021 lalu Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan kebijakan pelarangan ekspor batu bara sejak 1 Januari hingga 31 Januari karena kritisnya pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero) dan pengembang listrik swasta (IPP). Kritisnya stok batu bara PLN ini bisa berdampak pada ancaman pemadaman listrik bagi 10 juta pelanggan PLN, baik masyarakat umum dan industri.

Namun kini, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut akan membuka kembali keran ekspor batu bara RI mulai besok, Rabu, 12 Januari 2022 secara bertahap.

Bahkan, pada Senin malam (10/01/2022) setidaknya ada 14 kapal yang telah terisi batu bara dan diverifikasi sudah bisa dilepaskan segera untuk bisa ekspor.

"Nanti ada beberapa belas kapal yang diisi batu bara telah diverifikasi malam ini telah dilepas. Kemudian, nanti kapan mau dibuka ekspor bertahap dimulai Rabu," tuturnya kepada wartawan di kantornya, Senin (10/01/2022).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mau Dibubarkan Luhut, Begini Profil PT PLN Batubara


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading