Viral 'Jalan Neraka' Dekat Ibu Kota, Pemprov Jabar Buka Suara

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
05 January 2022 15:30
Warga Cianjur, Jawa Barat selama berpuluh-puluh tahun harus melewati jalan berbatu dan berlumpur, tak layak disebut sebagai jalan. Kawasan ini padahal hanya 70 km dari pusat kota Bandung ibu kota provinsi dan 200 km dari ibu kota Jakarta.

Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah, Cianjur sepanjang 33 km saat musim hujan makin sulit dilewati kendaraan roda empat maupun sepeda motor. Jalur ini bak 'neraka' bagi yang melintasinya, sangat licin untuk dilalui sehingga membahayakan pengendara dan penumpang angkutan umum.
Alex salah satu sopir mobil angkutan umum Elf Ciwidey-Padasuka harus berjibaku dua kali sehari melintasi 'jalur neraka' ini. Para sopir dan kernek menggunakan sekam padi untuk menjadi alas ban mobil agar bisa melewati jalan ini.
Negara sudah saatnya hadir di wilayah ini sebab sudah 76 tahun Indonesia merdeka masih ada jalan yang tak layak semacam ini.  Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah memang sudah masuk dalam program Pemprov Jabar melalui Jalur Tengah Selatan (JTS) tapi masih menunggu realisasi yang tak kunjung datang.

Pemprov Jabar memang  sedang memprioritaskan pembangunan JTS sepanjang 357 km yang melewati kawasan pegunungan dan hutan di Jabar. Proyek ini merupakan perbaikan jalan dan pembangunan jalan baru provinsi yang menghubungkan Sukabumi bagian tengah hingga Ciamis.

Rencananya, pembangunan akan terbagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama akan dibangun Jalan Horisontal Tengah Jawa Barat Selatan yakni dari wilayah Lengkong - Sagaranten (23,20 km), kemudian Sagaranten - Tanggeung (37,55 km), disambung Tanggeung - Padasuka/Cipelah (33,79 km), hingga Padasuka/Cipelah - Rancabali (16,84 km), total fase ini 111,38 km.
Selanjutnya kawasan Ciwidey - Pangalengan (22,12 km), lalu Pangalengan - Cikajang (53,48 km), disambung Cikajang - Bantarkalong (68,54 km), kemudian Bantarkalong - Kertahayu (101,48 km), hingga total sepanjang 245,62 km.(CNBC Indonesia/ Suhendra)

Jakarta, CNBC Indonesia - Meski tahun sudah berganti ke 2022, keberadaan 'jalan neraka' yang kondisinya rusak parah dan menyiksa pelintas berada di Tanggeung-Padasuka/Cipelah, Kecamatan Cibinong, Cianjur  Jawa Barat (Jabar). Jalur yang masih belum tersentuh pembangunan ini memang sudah masuk perencanaan proyek Jalur Tengah Selatan (JTS) oleh Pemprov Jabar

Kapan dikerjakan?

Penampakan 'Jalan Neraka' di Jabar, bisa klik di sini.

Pembangunan Jalur Tengah Selatan (JTS) meliputi daerah Bagbagan, Kiaradua, Lengkong, Sagaranten, Tanggeung, Ciwidey, Pangalengan, Cikajang, Bantar, Kalong, dan Kerta Rahayu sepanjang 321 km.


Warga Cianjur, Jawa Barat selama berpuluh-puluh tahun harus melewati jalan berbatu dan berlumpur, tak layak disebut sebagai jalan. Kawasan ini padahal hanya 70 km dari pusat kota Bandung ibu kota provinsi dan 200 km dari ibu kota Jakarta.Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah, Cianjur sepanjang 33 km saat musim hujan makin sulit dilewati kendaraan roda empat maupun sepeda motor. Jalur ini bak 'neraka' bagi yang melintasinya, sangat licin untuk dilalui sehingga membahayakan pengendara dan penumpang angkutan umum.Alex salah satu sopir mobil angkutan umum Elf Ciwidey-Padasuka harus berjibaku dua kali sehari melintasi 'jalur neraka' ini. Para sopir dan kernek menggunakan sekam padi untuk menjadi alas ban mobil agar bisa melewati jalan ini.Negara sudah saatnya hadir di wilayah ini sebab sudah 76 tahun Indonesia merdeka masih ada jalan yang tak layak semacam ini.  Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah memang sudah masuk dalam program Pemprov Jabar melalui Jalur Tengah Selatan (JTS) tapi masih menunggu realisasi yang tak kunjung datang.Pemprov Jabar memang  sedang memprioritaskan pembangunan JTS sepanjang 357 km yang melewati kawasan pegunungan dan hutan di Jabar. Proyek ini merupakan perbaikan jalan dan pembangunan jalan baru provinsi yang menghubungkan Sukabumi bagian tengah hingga Ciamis.Rencananya, pembangunan akan terbagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama akan dibangun Jalan Horisontal Tengah Jawa Barat Selatan yakni dari wilayah Lengkong - Sagaranten (23,20 km), kemudian Sagaranten - Tanggeung (37,55 km), disambung Tanggeung - Padasuka/Cipelah (33,79 km), hingga Padasuka/Cipelah - Rancabali (16,84 km), total fase ini 111,38 km.Selanjutnya kawasan Ciwidey - Pangalengan (22,12 km), lalu Pangalengan - Cikajang (53,48 km), disambung Cikajang - Bantarkalong (68,54 km), kemudian Bantarkalong - Kertahayu (101,48 km), hingga total sepanjang 245,62 km.(CNBC Indonesia/ Suhendra)Foto: Kondisi Jalanan Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah, Cianjur, Jawa Barat yang Rusak (CNBC Indonesia/ Suhendra)



Perencanaan pembangunan jalan ini sudah dilakukan cukup lama. Dimana studi kelayakan sudah dilaksanakan pada 2014 silam, Amdal sudah terbit pada 2014 lalu, dan desain awal diluncurkan pada 2019. Rencananya tahun 2021 sudah masuk dalam detail engineering design, dokumen lingkungan, dan pradesain.

Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Jawa Barat Bambang Tirtoyuliono, menjelaskan rencana pembangunan JTS masih berjalan, dan pembangunan terus dikejar karena termasuk dalam proyek strategis Jawa Barat.

"Proyek ini masuk dalam Perpres 87/2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat. Rencana trase sudah ada dari FS (Feasibility Study) Sekarang ini sedang mencoba membuat dokumen lingkungan kemudian kita mau coba lihat skema pembiayaannya," jelasnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (5/1/2022).

Bambang mengatakan biaya proyek ini sangat besar karena ada jalan yang harus dilebarkan dan ada lahan yang dibebaskan. Belum lagi juga ada jalan yang masuk ke dalam kawasan hutan. "Ini juga masih kita detailkan," jelasnya.

Hanya saja dia belum bisa membeberkan berapa nilai investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan jalan provinsi sepanjang 321 km ini. Semua itu kapan tergantung dari penyelesaian proses pendetilan.

"Itu ada hitungan makro, berapa rata-rata konstruksinya, gimana nanti hitungannya keluar. Jadi pemda lakukan pendetilan dulu untuk memformulasikan skema pembiayaan, nanti dilihat skema pelaksanaannya seperti apa," jelasnya.

Proyek JTS ini masuk dalam rencana pengembangan Jabar Selatan. Pemerintah pusat juga sudah menyoroti percepatan pembangunan proyek ini.

"Jabar Selatan ini memang perlu lebih banyak intervensi pemerintah. Jalan ini bagus sekali untuk tahap awal," kata Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil, dalam Rakor bersama Kemenko Marves, mengutup keterangan resmi, Februari lalu.

"JTS menjadi sangat kritis menurut saya karena bergerak di enam sektor krusial, yaitu transportasi, pengairan dan irigasi, air minum dan sanitasi, pariwisata dan ekonomi, penanganan bencana serta kelautan dan perikanan," kata Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan dalam forum itu.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading