Pertamina NRE Gandeng 'Raksasa' Listrik Rusia Garap PLTA

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
31 December 2021 12:25
Pertamina NRE tandatangani MoU dengan RusHydro untuk kembangkan proyek PLTA. (Doc Pertamina NRE)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertamina NRE, Subholding PT Pertamina (Persero) di bidang energi baru terbarukan, akan bekerja sama dengan perusahaan pembangkit listrik terbesar di Rusia, RusHydro, untuk mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Indonesia.

Rencana kerja sama ini diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh kedua perusahaan pada Kamis (30/12/2021).

Acara penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan secara virtual oleh Dannif Danusaputro selaku CEO Pertamina NRE dan Sergey Machekhin selaku Deputy Director General project Engineering, Sustainable Development and International Cooperation RusHydro.


"Ini adalah kerja sama yang sangat strategis untuk mempercepat pengembangan EBT di Indonesia, khususnya PLTA. Harapannya dapat mendukung percepatan pencapaian target Bauran Energi Nasional di mana EBT mencapai 23% pada tahun 2025. Pertamina NRE dan RusHydro memiliki aspirasi yang sama dalam transisi energi, yaitu menyediakan energi yang lebih bersih," jelas Dannif, seperti dikutip dari keterangan resmi Pertamina NRE, Jumat (31/12/2021).

Pertamina NRE tandatangani MoU dengan RusHydro untuk kembangkan proyek PLTA. (Doc Pertamina NRE)Foto: Pertamina NRE tandatangani MoU dengan RusHydro untuk kembangkan proyek PLTA. (Doc Pertamina NRE)
Pertamina NRE tandatangani MoU dengan RusHydro untuk kembangkan proyek PLTA. (Doc Pertamina NRE)

Dia menyebut, kerja sama strategis ini tidak saja mencakup pengembangan PLTA, melainkan juga potensi energi baru dan terbarukan (EBT) lainnya.

Pada area pengembangan PLTA dan proyek infrastruktur sumber daya air, kerja sama meliputi pengembangan strategi pemanfaatan sumber daya air di Indonesia yang memiliki nilai ekonomis, termasuk mengidentifikasi lokasi serta joint study, dan penjajakan terhadap offtaker atau pembeli listrik.

Sedangkan pada potensi EBT lainnya, kerja sama meliputi optimasi pembangkit listrik yang ada, transfer teknologi, pengembangan teknologi inovasi pada proyek-proyek EBT, serta percepatan peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia.

RusHydro adalah perusahaan pembangkit listrik terbesar di Rusia dengan kapasitas terpasang saat ini sebesar 38 Giga Watt (GW). Meskipun fokus pada PLTA, RusHydro juga mengoperasikan beberapa pembangkit listrik panas bumi dan pumped storage hydro power plant di Rusia. Perusahaan yang 61,7% sahamnya dipegang oleh pemerintah Rusia ini memiliki fokus pada penyediaan listrik berbasis energi bersih di mana saat ini memiliki porsi sebesar 81,5% dalam portofolio pembangkitnya.

Seperti diketahui, potensi EBT di Indonesia sangat besar, termasuk potensi energi hidro (air). Dalam peta jalan pengembangan pembangkit EBT yang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, penambahan per tahun kapasitas terpasang PLTA terbesar yakni pada 2025 sebesar 2.478 Mega Watt (MW). Dan pada 2030, ditargetkan total penambahan kapasitas terpasangnya mencapai 9.272 MW.

Sedangkan wilayah dengan target kapasitas terpasang PLTA terbesar di dalam peta jalan tersebut adalah Jawa, Madura, dan Bali, dengan total kapasitas pada tahun 2030 mencapai sekitar 3.900 MW.

Dannif mengatakan, Pertamina NRE secara aktif menjajaki kerja sama strategis dengan pihak lain dalam rangka mendukung upaya transisi energi.

Belum lama ini Pertamina NRE juga menandatangani nota kesepahaman dengan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) tentang sinergi dalam proyek-proyek penyediaan energi bersih baik di dalam maupun luar negeri seperti potensi pemanfaatan PLTA untuk green hydrogen. Melalui transisi energi, Pertamina mendukung target pemerintah untuk mewujudkan net zero emission atau netral karbon pada 2060.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dorong Pengembangan EBT, Pertamina NRE Gandeng Partner Global


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading