BI: Inflasi Rendah, Jaga Stabilitas Rupiah Jangka Panjang

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
01 December 2021 10:20
Fit and proper test, Juda Agung (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia sebagai otoritas moneter mengklaim akan selalu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan indikator makroprudensial lainnya yang berdampak terhadap perekonomian secara menyeluruh.

Calon Deputi Gubernur BI Juda Agung mengungkapkan saat ini inflasi nasional amat rendah, namun ke depannya sangat membantu nilai tukar rupiah stabil dalam jangka panjang.

Juda menjelaskan, inflasi sejak tahun 1980-an masih berada double digit antara 10% hingga 12%, kemudian terus turun pada kisaran 6% pada tahun 1990-an.


Dan kini secara gradual, inflasi bisa dijaga dengan level yang rendah dan masih dalam kisaran sasaran BI 3% plus minus satu persen.

Untuk diketahui, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2021 tercatat inflasi 0,12% (mtm) sehingga inflasi IHK sampai Oktober 2021 mencapai 0,93% (ytd).

Secara tahunan, inflasi IHK tercatat 1,66% (yoy), meningkat dari inflasi September 2021 sebesar 1,60% (yoy).

Oleh karena itu, di tengah inflasi yang rendah, menurut Juda ini menjadi keberkahan sendiri untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Mengenai depresiasi nilai tukar rupiah, ini dalam jangka panjang tergantung harga. Kalau inflasi tinggi, kita secara nilai tukar rupiah akan jadi lebih lemah," tuturnya saat melakukan paparan saat uji kelayakan menjadi Deputi Gubernur BI di Komisi XI DPR, Selasa (30/11/2021).

"Penurunan inflasi dari tahun ke tahun dan sampai saat ini cukup bagus 1,6%, ini in long term bisa menjaga stabilitas nilai tukar kita. Kalau inflasi rendah, nilai tukar rupiah juga akan stabil," ujarnya lagi.

Padahal sebelumnya, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyatakan keberatannya mengenai inflasi yang rendah. Rendahnya inflasi, menurut dia menjadi indikasi masih melemahnya permintaan oleh masyarakat.

"Range kita 2-4%. artinya kalau di bawah 2%, sebenarnya bagi kami di bank sentral tidak happy," ujarnya dalam webinar bertema Sinergi Pemerintah, BI, dan OJK dalam Mempercepat Pemulihan Ekonomi Nasional, dikutip Rabu (1/12/2021).

"Artinya permintaan masih rendah, ekonomi belum berjalan. Kita minta yang fit di Indonesia pada kisaran adalah 2-4%. Okelah di batas bawah 2% sudah cukup baik," ujar Dody lagi.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading