Internasional

Ada Lagi Ramalan 'Malapetaka' dari China, Please Be Careful..

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
01 December 2021 08:06
China's Chen Meng, left, and Sun Yingsha hold their national flag after winning the table tennis women's singles gold medal match at the 2020 Summer Olympics, Thursday, July 29, 2021, in Tokyo. (AP Photo/Kin Cheung)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ramalan 'malapetaka' baru bagi ekonomi global kini hadir lagi. Hal ini merujuk pada situasi China pasca kemunculan varian baru virus corona B.1.1.529 atau Omicron.

Hampir semua negara di dunia mulai memperketat kembali perbatasan dan aturan terkait Covid. Langkah ketat juga diyakini dilakukan China.

Para analis mengatakan Negara Tirai Bambu dapat kembali memperketat aturan Covid mereka. Ini tentu dapat mendatangkan 'malapetaka' di pasar global.


"Penyebaran varian yang sangat mudah menular pada akhirnya dapat membuat strategi tidak dapat dipertahankan. Tetapi dalam jangka pendek, pihak berwenang lebih cenderung melipatgandakan aturan," kata Mark Williams, kepala ekonom Asia di Capital Economics, dikutip dari CNBC International, Selasa (30/11/2021).

"Lockdown lokal secara berulang akan terus memukul aktivitas secara langsung, sementara kekhawatiran (akan Covid varian baru) akan membuat banyak orang tetap di rumah," tambahnya.

Strategi nol-Covid China sendiri melibatkan penguncian massal, meski hanya satu atau beberapa kasus yang terdeteksi. Ini juga mencakup pengujian ekstensif, perbatasan yang sangat terkontrol atau tertutup, serta sistem pelacakan kontak dan karantina.

Negara adidaya itu juga telah menerapkan pemeriksaan ketat di pelabuhannya, termasuk memantau kapal dan kargo, untuk mencegah kasus masuk ke negara itu. Dengan varian baru, kemungkinan pengetatan tindakan akan memukul kapasitas eksportir.

"Untuk eksportir, kontrol ketat terhadap kru udara dan pengiriman serta kemungkinan penutupan pelabuhan akan membatasi kapasitas mereka untuk memenuhi pesanan," kata Williams.

Direktur pelaksana di perusahaan investasi yang berbasis di Hong Kong Nan Fung Trinity, Helen Zhu, mengatakan hal serupa tentang tanggapan China.

"Jika Omicron ternyata menjadi ancaman besar, saya pikir China pasti akan terus memperpanjang periode isolasi," kata Zhu.

Sementara dalam laporan terbaru Morgan Stanley, strain Omicron baru dapat menyebabkan penundaan lebih lanjut untuk pembukaan kembali. Tidak hanya di China, tetapi juga di Hong Kong dan Taiwan.

"Ekonomi ini sebagian besar telah mempertahankan strategi nol Covid. Dengan munculnya varian baru ini, dampak ekonomi jangka pendek kemungkinan akan terbatas - tetapi ini berarti setiap upaya pembukaan kembali kemungkinan akan didorong lebih jauh, menunda rebound yang lebih kuat dalam pertumbuhan konsumsi," tulis para ekonom bank.

China sebelumnya telah terjebak dengan strategi nol-Covid, bahkan saat banyak negara mulai berdamai dengan virus ini dan mencabut beberapa pembatasan.

Negara ini pada awalnya mengambil pendekatan agresif melalui penguncian massal dan pembatasan sosial yang ketat, tetapi mereka secara bertahap meninggalkan strategi itu karena varian delta menyebar dengan cepat, sehingga penguncian menjadi kurang efektif.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi memasukkan varian baru menjadi variant of concern atau VOC (varian yang mengkhawatirkan). Omicron yang pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan (Afsel) memiliki banyak strain atau mutasi dibandingkan varian Alpha, Beta dan Delta.


[Gambas:Video CNBC]

(tfa/tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading