Harga Makanan dan Minuman Naik Tahun Depan, Karena Apa?

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
17 November 2021 19:33
Ketua GAPMMI, Adhi S Lukman di acara Food and Agriculture Summit 2021 CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) memproyeksikan tahun depan ada kenaikan harga makanan dan minuman. Hal ini disebabkan permasalahan kondisi global yang mempengaruhi bahan pangan, termasuk inflasi di China.

Ketua GAPMMI Adhi S. Lukman mengatakan kenaikan harga pangan ini memang tidak bisa dihindari lagi, karena sejak tahun lalu dampak dari pandemi, mengakibatkan krisis ekonomi, krisis kontainer, harga komoditi naik, hingga semua bahan pangan naik luar biasa.

Diperparah kondisi inflasi yang terjadi di China, membuat bahan makanan semakin mahal. Angka producer price index (PPI) yang melonjak menjadikan rekor inflasi di China dalam 26 tahun terakhir, terutama dari sisi harga produsen.


"Mau tidak mau akan menaikkan harga. Saya lihat kenaikan harga tidak bisa hindari, dari perkiraan saya 5%-7% yang akan dimulai pada tahun depan," katanya pada CNBC Indonesia, Rabu (17/11/2021).

Biro Statistik Nasional China mengungkapkan PPI Negeri Panda di Oktober 2021 melonjak di angka 13,5% pada Oktober, naik jika dibandingkan dari tahun lalu (yoy), dan meningkat dari level 10,7% pada September lalu.

Adhi mengatakan beberapa perusahaan makanan minuman juga sudah mulai memberikan informasi soal kenaikan harga yang dimulai pada Januari 2022. Secara umum produk makanan yang akan mengalami peningkatan yang berbahan dasar jagung, kedelai, susu, gula dimana harga komoditas itu sedang naik.

Belum lagi ditambah kenaikan pajak PPN untuk makanan dan minuman olahan yang naik 1% menjadi 11% di April tahun depan.

"Bahan pangan bahkan naik 50%-60%, sementara minyak nabati itu naik 60% bahkan gula juga naik mencapai 50%, dilanjutkan krisis energi tidak bisa dihindari, dimana energi juga berkaitan erat dengan bahan pangan," katanya.

Pendiri bisnis Inaco ini juga menjelaskan dua tahun perusahaan makanan dan minuman 'berpuasa' meski mencatatkan pertumbuhan yang positif, karena biaya produksi yang meningkat. Efisiensi juga sudah dilakukan supaya pelaku usaha bisa bertahan.



[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Muncul 'Kiamat' Baru karena Rusia vs Ukraina, Apa Itu?


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading