Krisis Energi Hingga Pangan, AADC alias Ada Apa dengan China?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
07 November 2021 09:50
People look at products in the flour section of a supermarket following outbreak of the coronavirus disease (COVID-19) in Beijing, China, November 3, 2021. REUTERS/Thomas Peter

Jakarta, CNBC Indonesia - China kini tengah mengalami hantaman krisis energi hingga nyaris krisis pangan. Jika sejak September lalu pemerintah mewanti-wanti warga untuk berhemat listrik, termasuk dihentikannya sejumlah operasional pabrik akibat kekurangan pasokan listrik, dan kini terbaru, Kementerian Perdagangan China pada Senin (1/11/2021) meminta agar warganya untuk mulai menimbun bahan-bahan kebutuhan sehari-hari.

Warga diminta untuk mempersiapkan pasokan kebutuhan hidup pokok dan darurat.

"Kami meminta keluarga untuk menyimpan sejumlah kebutuhan sehari-hari yang diperlukan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan keadaan darurat," ujar situs resmi pemerintah tersebut.


Tak hanya itu, Kementerian Perdagangan juga menyarankan warga bukan hanya menyetok makanan untuk musim dingin ini, tapi juga menyetok makanan hingga musim semi. Ini mendadak membuat gelombang kepanikan di media China. Sejumlah netizen berspekulasi soal apa yang terjadi.

"Pemerintah bahkan tidak menyuruh kami untuk menimbun barang saat wabah Covid merebak di awal 2020," tulis salah satu pengguna Weibo menanggapi kabar tersebut.

"Mungkin pihak berwenang mengingatkan orang-orang bahwa mereka mungkin tidak mampu membeli sayuran musim dingin ini," ujar yang lain.

Nyatanya, perintah ini sendiri bukan tanpa alasan. Ini diambil dengan beberapa pertimbangan mengenai permasalahan yang sedang dialami Negeri Tirai Bambu seperti cuaca buruk, kekurangan energi, dan pembatasan akibat lonjakan Covid-19.

Sebelumnya, rata-rata harga pangan, terutama sayuran, melonjak 39,8% sejak September. Ini diakibatkan gagal panen yang disebabkan hujan lebat yang membanjiri lahan sayuran.

Sejak September hingga awal Oktober, terjadi hujan deras terjadi di sebagian besar wilayah utara China, kebanyakan membanjiri provinsi penghasil sayuran terbesar di Shandong.

Tak hanya berdampak pada pangan, kondisi cuaca juga berdampak pada krisis energi di China. Dengan musim dingin yang lebih cepat dialami beberapa titik, ini menyebabkan kebutuhan listrik untuk pemanas lebih tinggi. Krisis listrik juga membuat harga produk dari pertanian rumah hijau (greenhouse) lebih mahal karena biaya pemanas dan listrik yang naik.

Sementara itu, tindakan penguncian juga sedang digalakkan di beberapa provinsi yang mengalami lonjakan Covid-19. Sejauh ini, Negeri Tirai Bambu pun juga sudah melakukan langkah-langkah penguncian di kota Heihe, Lanzhou, dan Eijin. Selain di tiga kota itu, penguncian yang sifatnya lokal atau per kompleks perumahan juga dilakukan di distrik Changping, barat laut Beijing. 

Lonjakan kasus baru ini dimotori oleh Varian Delta yang tersebar dari luar negeri. Selain itu, terdapat juga beberapa kluster Covid yang terkait dengan sekelompok wisatawan asal Shanghai yang pergi berwisata ke beberapa wilayah di provinsi Gansu dan Mongolia Dalam.

Menghimpun data Covid-19 dari Worldometers, per Minggu (07/11/2021) pagi waktu Indonesia, negara terbesar di Asia itu telah mencatatkan 97.660 kasus infeksi yang diiringi dengan 4.636 kematian sejak wabah itu pertama kali muncul di kota Wuhan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

8 Aturan 'Gila' China di Kepemimpinan Xi Jinping


(tps/tps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading