Tsunami di Toko-Toko Ritel Ngeri, Ramayana Sampai Giant Kena!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
03 November 2021 18:40
Suasana pusat perbelanjaan di Giant Ekspres Kemayoran terlihat sepi pengunjung, Jakarta, Senin (31/5/2021). PT Hero Supermarket TbkTbk menutup seluruh gerai Giant di Indonesia pada bulan Juni mendatang.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Matahari Department Store Tbk (LPPF) resmi menutup satu gerainya yang berada Pasar Baru, Jakarta Pusat sejak 1 November 2021 kemarin. Penutupan ini menambah panjang deretan ritel yang harus tutup di masa pandemi Covid-19.

Sejak tahun lalu, atau dalam 1,5 tahun terakhir, ritel tengah dalam situasi tidak ideal, utamanya ritel fashion. Banyak penutupan gerai terus terjadi selama pandemi,  meski tren itu sudah terjadi sebelumnya.

Berikut sejumlah ritel yang telah menutup gerainya:


Matahari

Gerai Matahari Matahari Pasar Baru menjadi yang teranyar tutup. Ini bukan kali pertama, baru 1,5 bulan lalu LPPF menutup gerainya yang ada di Bogor.

Direktur Independen LPPF Miranti Hadisusilo mengungkapkan bahwa perusahaan sudah memiliki rencana untuk menutup belasan toko. Toko yang bakal terkena penutupan utamanya mereka yang tidak begitu baik secara bisnis.

"Alasannya, karena gerai tidak perform, bukan karena Covid-19. Sebelum Covid juga sudah tidak perform," imbuhnya kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Mengacu pada laporan kuartalan, hingga Q1-2021, perusahaan mengoperasikan 147 gerai, jumlahnya sama dengan posisi 31 Desember 2020. Jumlah itu terbagi di Sumatera 28, Jawa 86, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku 28 dan wilayah lainnya 5 gerai.Dari 147 gerai tersebut terdapat 124 gerai reguler dan 23 gerai dalam pengawasan.

Giant

Pada Selasa (25/5) manajemen PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mengungkapkan semua gerai Giant akan ditutup pada Juli 2021. Gerai Giant akan dialihkan menjadi IKEA sebanyak 5 gerai dan sisanya menjadi gerai Hero.

Direktur HERO Hadrianus Wahyu Trikusumo saat itu menyebut, perusahaan sedang melakukan transformasi besar-besaran agar ke depan bisnis HERO bisa tetap bersaing dengan bisnis ritel makanan lainnya di Indonesia. Pasca penutupan itu, HERO sempat hanya mengelola 119 gerai Giant saja.

Langkah strategis ini bukan kali pertama, sebelumnya Hero juga menutup Giant Margo, City Depok, Jawa Barat serta Giant Kalibata, Jakarta Selatan.

Hingga Maret 2021, gerai Giant hanya tersisa 75 gerai, untuk Giant Ekstra maupun Giant Ekspres. Sepanjang 2019 hingga Maret 2021 ada 25 gerai Giant yang ditutup.

Pada awal 2021 setidaknya ada tiga gerai Giant yang terkonfirmasiyang tutupyakni Giant Ekstra di Margo City Depok, Giant Mayasari Plaza Tasikmalaya dan Giant Kalibata.

Kemudian pada April 2021, penutupan gerai hypermarket Giant milik PT. Hero Supermarket Tbk bertambah satu lagi. Kali ini Giant Ekstra di Pamulang, Tangsel, Banten resmi tutup.

Ramayana

Publik masih teringat video viral sempat beredar terkait penutupan gerai Ramayana yang diwarnai tangis karyawan di gerai Depok beberapa waktu lalu. Hal itu bagian dari langkah penutupan gerai juga dilakukan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Sebanyak 13 gerai ditutup sementara karena penurunan penjualan akibat pandemi Covid-19. Aksi ini dilakukan sejak akhir Maret 2020 lalu ketika awal-awal pandemi menyerang.

Sebanyak 87 karyawan tetap Ramayana di Ramayana City Plaza Depok, Jawa Barat, terkena PHK. Kabar PHK itu awalnya berembus dari sebuah video yang viral dari akun Twitter @wawat_kurniawan. Video yang juga diperoleh CNBC Indonesia itu berisikan sejumlah karyawan yang berseragam merah muda-abu saling berpelukan dan menangis.

Informasi PHK itu pun dibenarkan oleh Store Manager Ramayana City Plaza Depok M Nukmal Amdar.

"Ada 87 karyawan, yang benar itu. Yang beredar ada ratusan, segala macam. Yang benar 87 yang kita proses PHK sesuai dengan ketentuan," kata Nukmal, Rabu (8/4/2020).

Penyebab dari PHK yang dilakukan Ramayana ini terkait dengan dampak ekonomi dari virus Corona yang menekan penjualan gerai tersebut.

"Ya sudah tidak mampu menutupi lagi biaya-biaya operasional. Di tengah pandemi ini dengan prediksi sales kita ke depan ya sudah diperhitungkan memang sudah tidak mampu lagi," tegas Nukmal.

Di 2021, kinerja Ramayana belum pulih. Pendapatan bersih RALS ambles 46,41% menjadi Rp 490,94 miliar pada kuartal I tahun ini. Sejurus dengan itu, RALS mencatatkan rugi bersih Rp 85,67 miliar secara yoy. Padahal, pada kuartal I 2020, emiten ini masih menggondol laba bersih Rp 13,29 miliar.

Secara annual, setidaknya sejak 2001 silam, baru pada 2020 RALS mengalami rugi bersih, yakni sebesar Rp 138,87 miliar

Sepanjang tahun lalu, RALS menghentikan operasi 13 gerai. Jadi, secara total, RALS memiliki 106 gerai per kuartal I 2021, jumlah yang sama dengan akhir Desember tahun lalu. Rinciannya, gerai Ramayana sebanyak 101 gerai, Robinson 3 gerai dan Cahaya 2 gerai.

Centro

Dampak pandemi juga dirasakan emiten toko ritel lainnya yakni pengelola jaringan ritel Centro, PT Tozy Sentosa yang menutup gerai di Bintaro dan Plaza Ambarrukmo.

Selain menutup operasional, Centro juga menghadapi kasus hukum di persidangan. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) pada Senin 17 Mei 2021 bahkan sudah menyatakan pailit karena penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) ditolak oleh para pemasoknya.

Putusan pailit itu dihasilkan setelah adanya hasil voting dari para kreditor dan rekomendasi dari hakim pengawas.

Humas PN Jakpus, Bambang Nurcahyono, mengatakan bahwa berdasarkan rapat kreditor dan adanya voting dari para kreditornya, Proposal Rencana Perdamaian yang diajukan oleh debitur (PT Tozy/Centro) sebagian besar di tolak oleh para kreditornya, sehingga Centro pailit.

"Ini juga berdasarkan juga rekomendasi dari Hakim Pengawas. Pembacaan Putusan oleh Majelis Hakim Pemutus tadi Senin, tanggal 17 Mei 2021," katanya saat dihubungi CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Penjualan Ritel Tumbuh Melambat di Juni, Tapi Minus di Juli


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading