Sri Mulyani: Covid Bukan Terakhir, Ada yang Lebih Menyeramkan

News - MAIKEL JEFRIANDO, CNBC Indonesia
19 October 2021 11:15
INFOGRAFIS, Lebih Ngeri dari Covid, Bumi Mendekati Titik Krisi Iklim

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan covid-19 bukanlah permasalahan terakhir yang mampu menciptakan pandemi di dunia. Sederet masalah lain menanti para manusia, tentunya bisa lebih mengerikan.

"Pandemi covid bukan yang pertama dan bukan terakhir. Artinya, dunia harus menyadari fenomena ancaman seperti pandemi tidak akan selesai atau menjadi pertama atau terakhir," ungkapnya dalam acara Festival Transformasi Pelayanan Publik 2021, Selasa (19/10/2021)


"Maka di dunia ini harus diikhtiarkan cara-cara kalau hal ini terjadi lagi dan seharusnya bisa dicegah sedini mungkin sehingga tidak menimbulkan dampak yang luar biasa," tegas Sri Mulyani.

Fenomena yang dimaksud Sri Muyani adalah perubahan iklim atau climate change. Permasalahan yang sebenarnya tidak bisa disebut akan terjadi di masa depan, sebab berbagai dunia sudah merasakan gejalanya.

"Dari sisi korban jiwa, dampak ekonomi dan keuangan, ini sebuah fenomena adalah kejadian yang luar biasa, maka bangsa-bangsa di dunia harus berpikir dan berikhtiar mencegah hal ini ke depan," imbuhnya.

Layaknya pandemi covid-19, dampak perubahan iklim juga tidak mengenal batas. Seluruh negara bisa terkena dampaknya, termasuk Indonesia. Baik berupa bencana alam, krisis ekonomi hingga kesengsaraan masyarakat.

Sri Mulyani yang juga merupakan Co-Chairs of the 2021-2023 Coalition of Finance Ministers for Climate Action mengharapkan seluruh pihak mulai berpikir serta menjalankan kehidupan yang mampu mencegah kemungkinan terburuk dari perubahan iklim

"Tantangan climate change, perubahan yang menimbulkan konsekuensi yang sangat dahsyat. Generasi muda yang menyongsong masa depan mereka disasar tantangan global yang tidak pilih-pilih. Tidak ada bordernya, sama seperti pandemi ini," papar Sri Mulyani.

Pemerintah sendiri sudah mulai sederet kebijakan antisipatif. Di antaranya memulai proyek pembangunan hijau, begitu juga dengan pembiayaannya. Selain itu baru saja dilakukan pengenaan pajak karbon yang dimulai pada pembangkit listrik.

"Meskipn kita disibukan dengan pandemi, tapi climate change niscaya terjadi apabila seluruh dunia tidak mengantisipasinya," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI Butuh Rp3.700 T Atasi Hal Ini, Duitnya Ada Bu Sri Mulyani?


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading