Internasional

Fakta Krisis Energi Singapura, Ada RI Dituding Penyebabnya?

News - Anisatul Umah & Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
19 October 2021 06:11
People are dwarfed against the financial skyline as they take photos of the Merlion statue along the Marina Bay area in Singapore, Tuesday, June 30, 2020. (AP Photo/Yong Teck Lim)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak hanya Eropa, Inggris, China dan India, Singapura juga mengalami krisis energi. Sejumlah perusahaan pengecer listrik di Negeri Singa mulai bertumbangan.

Setidaknya tiga perusahaan mengaku akan keluar dari bisnis listrik di Singapura. Negeri itu sendiri telah meliberasi listrik sejak 2018, dengan meluncurkan sistem Pasar Terbuka (OEM).


Terbaru, Ohm Energy dan iSwitch akan menghentikan operasi mereka. Keduanya akan menggembalikan rekening pengguna ke SP group, perusahaan listrik milik negara di Singapura.

"Beberapa mungkin merasa sulit untuk mempertahankan operasi mereka dan mungkin memilih untuk keluar dari pasar," kata otoritas energi Singapura EMA dikutip Channel News Asia (CNA) akhir pekan.

Lalu apa yang menjadi penyebabnya?

Situasi yang dianggap "luar biasa" di sektor energi menjadi biang keladinya, Hal ini didorong oleh peningkatan permintaan global untuk gas alam seiring pembukaan dunia pasca lockdown akibat pandemi Covid-19.

Ini pun disertai pasokan gas yang minim yang membuat harga meroket di pasar spot. Di sisi lain, produksi batu bara juga terbatas akibat terganjal isu lingkungan.

Selain soal harga gas, permintaan listrik memang naik di negara kota itu. Selain itu impor energi dari RI juga terganggu.

"Ada juga pembatasan gas alam perpipaan dari West Natuna (RI) dan rendahnya gas yang dipasok dari Sumsel," kata EMA lagi.

Sementara itu, saat dikonfirmasi CNBC Indonesia, Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno membenarkan soal gangguan dari RI ini. Namun saat ini, ia berujar seharusnya semua sudah kembali normal.

"Minggu lalu tidak ada operational disruption ya kecuali memang planned shutdown Jambi Merang untuk maintenance. (Tapi) beberapa waktu yang lalu ConocoPhillips memang ada gangguan cukup lama dari Mei sampai Agustus. Sekarang sudah back to normal," katanya menjawab pesan singkat, Senin (18/10/2021).

"Pada waktu kita ada unplanned shutdown ya memang kurang supply ke Singapore. Tapi sekarang seharusnya sudah normal," tambahnya.

Sementara itu Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan sebenarnya masalah krisis energi Singapura adalah kombinasi. Namun memang pasokan RI mendominasi.

"Sekitar 60% pasokan gas mereka dari Indonesia," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini 'Biang Kerok' yang Buat Krisis di China Makin Ngeri


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading