Batu Bara Diramal Tak Akan Punah Meski Ada EBT, Ini Kuncinya

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
08 October 2021 19:29
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus mendorong pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Bahkan, berencana tidak akan menambah lagi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara kecuali yang sudah terikat pendanaan (financial close) atau dalam tahap pembangunan/ konstruksi.

Plt Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA) Djoko Widajatno mengatakan, meski terjadi transisi energi, namun diproyeksikan permintaan batu bara untuk pembangkit listrik masih akan tinggi ke depannya.

Menurutnya, di Jepang berdasarkan informasi dari Mitsubishi Corporation, di dekat Fukushima ada tiga pembangkit baru. Lalu di Korea pemanfaatan batu bara untuk pembangkit listrik masih tetap dilakukan, namun dengan menggunakan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) pada PLTU.


"Sehingga pemakaian batu bara tidak terlalu lepaskan emisi CO2 dan kita harapkan emisi nol dan ini sedang diusahakan," ungkapnya dalam program 'Closing Bell' CNBC Indonesia, Jumat (08/10/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, pemanfaatan teknologi CCUS di Indonesia sudah berhasil di skala pilot project yang dilakukan oleh peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI).

"Ke depan permintaan (batu bara) akan ada karena energi murah ke industri dan kebutuhan listrik masyarakat akan terpenuhi," katanya.

Seperti diketahui, Indonesia punya target mencapai netral karbon pada 2060 mendatang. Salah satu strateginya adalah dengan inovasi teknologi CCUS.

Dengan penggunaan teknologi CCUS ini, PLTU berbasis batu bara disebut tetap bisa dimanfaatkan tanpa menimbulkan efek gas rumah kaca (GRK).

Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (Persero) Evy Haryadi mengharapkan agar dalam 15 tahun ke depan teknologi ini sudah bisa diterapkan secara ekonomis.

Jika ini dilakukan, maka diperkirakan PLTU tua yang perlu dipensiunkan hanya sebesar 1 Giga Watt (GW) dari rencana awal hingga 49 GW sampai 2056 mendatang.

Adapun 1 GW PLTU yang akan dipensiunkan merupakan yang masuk dalam rencana pensiun tahap awal, yakni PLTU Subcritical Tahap Pertama pada 2030.

"Kami perkirakan 2030 sudah bisa di-retirement (dipensiunkan) dan mulai 2035 kita sudah bisa gunakan CCUS," paparnya dalam Webinar: Masa Depan Batu Bara dalam Bauran Energi Nasional, Senin malam (27/07/2021).

Konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik diperkirakan masih akan tumbuh sampai 2030. Dengan menggunakan teknologi CCUS, diperkirakan bisa tetap mempertahankan penggunaan batu bara sekitar 150 Tera Watt hour (TWh).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading